Pasien kanker yang sudah tidak lagi merespons terapi kuratif (pengobatan), membutuhkan terapi paliatif, untuk membuatnya lebih nyaman. Salah satu yang paling krusial dalam perawatan paliatif yaitu mengatasi nyeri. “Berdasarkan sebuah studi meta-analisis dan systematic review pada 2023, nyeri pada pasien kanker mencapai 44,5%,” ujar Dr. Riri Maria, S.Kp.,MANP, Ketua Departemen Keperawatan Medikal Bedah Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia (FIK UI).
Penyebab nyeri pada pasien kanker bersifat multifaktor. Baik dari kanker itu sendiri, pengobatan seperti pembedahan, radiasi dan kemoterapi, maupun pemeriksaan diagnostik seperti biopsi. Massa tumor yang menekan saraf dan menyebar ke organ yang lainnya juga menimbulkan nyeri. “Penting bagi perawat untuk memahami nyeri kanker. Hal ini akan membantu kita untuk memahami kondisi pasien dalam memberikan intervensi perawatan yang tepat,” tutur Dr. Riri, dalam salah satu sesi simposium di Siloam Oncology Summit 2026, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Hal senada disampaikan oleh Prof. Dr. Christantie Effendy, SKp. M.Kes. dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. “Kita paham bahwa keluarga sangat menyayangi pasien dan ingin mengupayakan pengobatan semaksimal mungkin sampai akhir. Namun, tetap harus realistis. Kalau sudah membutuhkan pelayanan paliatif, maka targetnya bukan lagi kesembuhan, melainkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien sehingga ia tidak terlalu menderita dan kesakitan,” ujarnya.
Manajemen Nyeri dalam Perawatan Paliatif: Fisik, Psikososial, Spiritual
Perawatan nyeri tak hanya secara fisik (dengan obat-obatan), tetapi juga meliputi dukungan psikososial dan spiritual. Prof. Tantie melakukan penelitian dengan membandingkan pasien kanker di Belanda dan Indonesia.
Ia menemukan, 70% pasien di Belanda dan Indonesia sama-sama mengalami nyeri. Namun, masalah psikologis lebih banyak dialami oleh pasien di Belanda karena umumnya mereka menjalani rawat inap sendirian. “Sedangkan di Indonesia, banyak anggota keluarga yang mendampingi pasien selama 24 jam sehari. Ternyata, hal ini berperan besar dalam mendukung kondisi psikososial dan spiritual pasien,” paparnya.
Ia melanjutkan, dokter dan perawat juga memiliki andil dalam perawatan psikososial-spiritual pasien stadium lanjut. “Misalnya saat kunjungan, dokter dan perawat menyapa dengan memanggil nama pasien, sehingga ia merasa diperhatikan secara personal. Ini adalah bagian dari dukungan spiritual,” ujar Prof. Tantie.
Namun demikian, perawatan nyeri secara fisik tetap tak boleh dilupakan. Di Indonesia, sayangnya, hal ini masih sering menjadi pro kontra. “Pasien kanker sangat membutuhkan morfin untuk mengurangi nyeri yang dirasakannya. Namun, masih ada keluarga yang menolak memberikan morfin karena takut pasien menjadi kecanduan. Padahal, pasien tidak akan menjadi kecanduan. Ia memang membutuhkan morfin untuk mengurangi nyeri. Bila dibiarkan nyeri, pasien akan sangat menderita,” tutur Prof. Tantie.
Morfin bagi pasien kanker adalah obat penting yang sangat dibutuhkan. Keluarga tak perlu khawatir; dosis morfin diatur oleh dokter, sehingga sudah dipertimbangkan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan. Pasien tidak akan menjadi kecanduan. Biarkan ia menjalani hari-hari terakhirnya tanpa rasa sakit dan penderitaan.
Bangun Komunikasi yang Baik
Prof. Tantie menegaskan, penting bagi pasien dan keluarga untuk menjalin komunikasi yang baik dengan perawat, karena perawatlah yang selalu ada setiap shift di RS. Pasien dan keluarga juga harus satu suara dalam tiap pengambilan keputusan.
Di sisi lain, perawat pun perlu belajar berkomunikasi dengan baik, serta mendengarkan keinginan pasien tanpa mengabaikan pendapat keluarga. Sampaikan kondisi yang sebenarnya dengan bahasa yang empatetik, tapi tidak memberikan harapan palsu. Dokter, perawat, dan keluarga harus bekerja sama untuk memberikan dukungan fisik, psikososial, dan spiritual bagi pasien.
Prof. Tantie juga menyoroti pentingnya dukungan bagi pasien kanker di akhir hidupnya. “Dari hasil penelitian, orang-orang dalam kondisi sekarat ingin bersama dengan keluarga,” ujarnya. Namun, tak jarang keluarga ingin pasien dirawat di ICU dengan pertimbangan bahwa ada dokter dan perawat yang selalu stand by dan bisa segera mengatasi bila terjadi kegawatan. “Padahal, di ICU hanya ada bunyi mesin dan bukan itu yang diinginkan pasien,” imbuhnya.
Ia mengingatkan untuk mendukung kebutuhan spiritual pasien di saat-saat terakhir. “Saat pasien sekarat, harus ada yang mendampingi. Keluarga silakan mendampingi pasien dan RS memfasilitasi,” tandas Prof. Tantie. (nid)



