Gangguan pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) membutuhkan inhaler atau terapi inhalasi. “Terapi inhalasi lebih efektif dibandingkan obat minum (oral), karena bekerja langsung di organ target, yaitu saluran pernapasan,” ujar Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi(K) dalam media edukasi di Jakarta beberapa waktu lalu.
Jangan cemas bila dokter merekomendasikan pemberian inhaler untuk asma atau PPOK kepada si Kecil. Bukan berarti penyakitnya sudah parah, atau anak akan “ketergantungan” pada terapi tersebut. “Justru terapi inhalasi lebih aman. Dosisnya seribu kali lebih kecil dibandingkan dengan obat minum,” terang dr. Wahyuni.
Dosis obat pada terapi inhalasi jauh lebih kecil karena bekerja lokal di saluran napas, tidak perlu dicerna dulu di saluran cerna lalu diedarkan secara sistemik ke seluruh tubuh. Efeknya pun langsung terasa karena langsung masuk ke saluran napas.
Inhalasi berasal dari kata inhale (hirup). Artinya, obat dihirup dan langsung masuk ke saluran napas. Pada terapi inhalasi untuk ganguan paru, obat yang dihirup bisa masuk sampai ke saluran napas bagian bawah, termasuk alveoli di paru.
3 Jenis Inhaler untuk Asma dan PPOK
Inhaler untuk asma dan gangguan paru lain seperti PPOK secara umum dibagi menjadi tiga jenis. Kenali fungsinya, kapan diperlukan, dan seperti apa penggunaannya.
1. Metered-Dose Inhaler (MDI)

Kanister obat MDI dan spacer dengan masker / Ilustrasi: Canva
MDI atau inhaler dosis terukur mengantarkan obat dalam dosis terukur ke paru dalam bentuk semprotan aerosol. Ini adalah inhaler yang pertama muncul dan paling umum dikenal. Obat pada MDI biasanya berupa bronkolidator, kortikosteroid, atau kombinasi keduanya untuk mengatasi serangan asma dan PPOK.
Penggunaan MDI cukup mudah. Sebelum digunakan, karnister obat dikocok terlebih dulu, lalu tempelkan mouthpiece ke mulut. Katupkan mulut rapat-rapat pada bibir mouthpiece, hirup napas dalam dan pelan, lalu semprotkan karnister obat. Lanjutkan menghirup napas sampai maksimal, dan tahan napas hingga 10 hitungan, lalu buang napas.
Untuk mempermudah penggunaan MDI, bisa digunakan spacer, tabung plastik yang dipasang pada inhaler. “Spacer berfungsi untuk menampung obat yang disemprotkan, sehingga lebih mudah untuk dihirup. Obat pun bisa masuk lebih dalam ke paru dan tidak menumpuk di tenggorokan,” papar dr. Wahyu. Mouthpiece pada spacer bisa dipasang pada masker, atau ditempelkan langsung ke mulut.
2. Dry Powdered Inhaler (DPI)

Macam-macam DPI / Ilustrasi: Canva
Sesuai namanya, inhaler jenis ini mengantarkan obat ke paru dalam bentuk serbuk kering. Berbeda dengan MDI yang hanya dipakai saat terjadi serangan, DPI digunakan setiap hari untuk mengendalikan gejala asma dan PPOK dalam jangka panjang. Tidak untuk digunakan saat serangan terjadi. DPI biasanya mengandung kombinasi obat dengan zat aktif yang berfungsi untuk melebarkan saluran napas, dan obat antiradang.
Cara penggunaan alatnya pun berbeda. MDI diaktifkan dengan cara disemprot, sedangkan DPI ditarik dengan napas yang cepat dan kuat. Setelah itu, alat dilepaskan dari mulut, tahan selama 5 – 10 detik, baru kemudian embuskan napas dengan perlahan.
Ada beberapa bentuk DPI. Antara lain diskus, turbuhaler, handihaler, dan swinghaler.
3. Nebulizer
Nebulizer berfungsi seperti MDI, yaitu digunakan saat terjadi serangan asma/PPOK. Bedanya, nebulizer tidak bisa langsung digunakan. Obat dalam bentuk larutan dimasukkan ke nebulizer, lalu alat tersebut mengubahnya menjadi bentuk aerosol untuk dihirup. Alat dihubungkan ke masker atau mouthpiece untuk menghirup obat.
Nebulizer digunakan pada serangan asma berat, pada bayi atau anak kecil yang belum bisa menggunakan MDI, atau saat bernapas terlalu sulit sehingga tidak bisa menggunakan MDI dengan tepat.
Obat yang digunakan pada nebulizer bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan resep dokter. Ada begitu banyak macam nebulizer di pasaran; simak tips memilihnya di artikel ini.

Contoh alat nebulizer / Ilustrasi: Canva
Dr. Wahyu mengingatkan, asma dan PPOK adalah penyakit kronis yang berlangsung lama, bukan penyakit yang selesai dalam beberapa hari. “Pengobatannya harus betul-betul dipikirkan. Baik saat ada serangan, sebelum ada gejala, atau tatalaksana jangka panjang,” tuturnya. Bagi anak dengan asma berat, sering kali mereka membutuhkan pengobatan aktif setiap hari. Penting untuk berdiskusi secara intens dengan dokter paru anak, agar si Kecil mendapat pengobatan yang tepat. Jangan salah menggunakan inhaler untuk asma dan PPOK; gunakan jenis inhaler yang tepat sesuai kebutuhan dan kondisi anak. (nid)
_______________________________________________
Ilustrasi: Canva





