Diabetes dianggap sebagai “ibu” dari banyak penyakit, termasuk jantung, stroke, gagal ginjal, hingga kanker. Sehingga penting untuk melakukan pencegahan diabetes sejak awal.
Para ahli menyatakan risiko diabetes tipe 2 antara lain adanya riwayat keluarga menderita diabetes, pola makan tinggi gula, hingga kegemukan/obesitas. Namun semakin banyak bukti ilmiah yang mengungkapkan bila mikrobioma usus juga punya peran.
Mikrobioma usus adalah trilyunan bakteri dan mikroorganisme lain yang secara alami hidup dalam saluran cerna. Sebelumnya, studi tahun 2022 menyatakan hubungan antara bakteri usus dengan penyakit tertentu, termasuk diabetes tipe 2. Namun, belum jelas apakah perubahan mikrobioma usus terjadi sebelum penyakit ini berkembang, atau disebabkan olehnya.
Terbaru, riset skala besar di Swedia mengungkapkan bahwa komposisi bakteri usus bisa membantu mengidentifikasi peningkatan risiko diabetes bertahun-tahun sebelum penyakit tersebut berkembang.
Studi yang diterbitkan di jurnal Cell Reports Medicine ini menemukan beberapa spesies bakteri berhubungan dengan peningkatan risiko menderita diabetes tipe 2.
Ini berarti bahwa diabetes tipe 2 mungkin dapat dideteksi bertahun-tahun sebelum berkembang dengan menganalisis bakteri usus, sehingga membantu untuk melakukan pencegahan lebih awal.
6 bakteri meningkatkan risiko
Sebagai bagian dari proyek riset Eropa bernama HealthFerm, peneliti melibatkan lebih dari 4.000 orang dewasa yang komposisi bakteri ususnya diteliti lewat sampel feses.
Dari total partasipan, sebanyak 383 orang terdiagnosa diabetes dalam 5 tahun periode pengamatan dan kesamaan awal terlihat pada kondisi mikrobiota usus mereka.
Karena penelitian ini mengikuti partisipan dari waktu ke waktu, peneliti bisa mengamati perubahan mikrobioma beberapa tahun sebelum penyakit itu berkembang.
Setelah membandingkan bakteri usus penderita diabetes dan yang tidak, peneliti mengidentifikasi 9 spesies bakteri yang terkait dengan risiko diabetes. Dari jumlah tersebut, 6 dikaitkan dengan peningkatan risiko, sementara 3 dengan penurunan risiko.
Temuan ini menunjukkan bila komposisi bakteri usus mungkin berperan pada perkembangan diabetes, bukan sebaliknya. Sekaligus memperkuat pendapat bila bakteri tertentu mungkin terlibat lebih awal dalam proses penyakit.
Temuan bakteri yang mengejutkan
Temuan tak terduga melibatkan Akkermansia muciniphila, bakteri yang sering dikaitkan dengan kesehatan metabolisme yang positif. Invidu yang mengembangkan diabetes memiliki lebih banyak jumlah bakteri ini, dibanding non-diabetes. Menurut peneliti, kebiasaan makan bisa menentukan apakah bakteri usus tertentu bermanfaat atau berbahaya.
Umumnya, A. muciniphila memakan serat makanan. Namun, saat asupan serat rendah bakteri tersebut bisa mulai memecah lapisan pelindung (mucus) dinding usus.
Ini akan melemahkan pertahanan usus, memungkinkan bakteri lain untuk berinteraksi dengan lapisan usus bagian dalam, berpotensi memicu peradangan dan perubahan metabolik yang berhubungan dengan resistensi insulin.
Spesies bakteri lain, Coprococcus catus, tampaknya menunjukkan efek ambang batas. Tingkat bakteri yang sangat rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes, sedangkan tingkat yang lebih tinggi tidak.
Bakteri feses untuk prediksi diabetes
Berdasarkan temuan tersebut, analisa bakteri di feses bisa digunakan untuk melengkapi pendekatan yang sudah ada sebagai penilaian risiko diabetes.
Anda bisa melakukan pengujian mikrobioma bersamaan dengan pengukurang gula darah, berat badan dan riwayat keluarga untuk melihat seberapa besar risiko mengembangkan diabetes di masa datang.
“Mikrobioma dapat memberi informasi biologis tambahan yang melengkapi faktor risiko tradisional, sehingga berpotensi membantu mengidentifikasi orang yang berisiko lebih awal atau lebih cepat,” ujar Rikard Lanberg, PhD, profesor di Department of Life Sciences, Chalmers University of Technology, dan penulis utama studi ini, melansir Medical News Today.
Serat penting untuk bakteri usus yang sehat
Peneliti tetap menekankan pentingnya konsumsi serat, baik dari sayuran, buah-buahan atau biji-bijian, untuk menjaga kesehatan usus secara umum.
“Serat pangan adalah sumber nutrisi utama banyak bakteri usus, dan ini bisa mempengaruhi mikroba mana yang berkembang dan bagaimana fungsinya. Ketika serat tersedia dalam jumlah cukup, bakteri usus menghasilkan senyawa yang mendukung barrier (lapisan pelindung) usus, dan mengatur metabolisme serta peradangan,” kata Gaël Toubon, PhD, salah satu peneliti.
“Dalam riset kami, A. muciniphila dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes di masa datang, terutama pada individu yang asupan seratnya rendah. Sedangkan hubungan ini jauh lebih rendah pada mereka yang mengonsumsi lebih banyak serat. Menunjukkan diet dapat merubah bagaimana bakteri usus berperan untuk kesehatan,” tambahnya.
Peneliti menekankan bila memahami hubungan antara diet dan mikrobioma usus bisa membantu Anda untuk mengembangkan pencegahan / pengelolaan diabetes yang lebih personal.
“Studi kami menguatkan pentingnya menjaga gaya hidup sehat, terutama konsumsi makanan tinggi serat,” papar Prof. Landberg. “Alih-alih hanya fokus pada bakteri jahat atau baik secara individual, lebih baik mendukung mikrobioma usus yang sehat dan beragam melalui kebiasaan diet dan gaya hidup, yang diketahui akan meningkatkan kesehatan metabolisme.” (jie)





