Gejala Retinopati Diabetik Sangat Perlahan – Pentingnya Skrining agar Tidak Terlambat

Gejala Retinopati Diabetik Sangat Perlahan – Pentingnya Skrining agar Tidak Terlambat

Penglihatan kabur atau kemampuan melihat di malam hari berkurang, jangan diabaikan. Segeralah ke dokter untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. “Begitu dicek, ternyata gula darahnya tinggi,” ujar Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M, Guru Besar Oftalmologi FKK-MK Universitas Gadjah Mada (UGM). Ya, penglihatan bisa berkurang akibat diabetes mellitus; ini disebut retinopati diabetik.

Diabetes mellitus atau DM sendiri merupakan masalah besar di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi DM pada usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7%. Ini setara dengan 1 dari 9 orang.

Yang jadi masalah, sebagian besar orang tidak tahu bahwa mereka menyandang diabetes. Sistem kesehatan nasional baru berhasil mendeteksi sekitar 15 juta kasus. “Sekitar 70% kasus diabetes tidak terdiagnosis,” ungkap Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD. Karena tidak terdiagnosis, mereka pun tidak mendapat pengobatan.

Apa dampaknya? “Kerusakan akibat tingginya kadar gula darah akan berjalan terus. Makin tinggi kadar gula, makin cepat kerusakannya,” tegas Prof. Yunir, dalam diskusi di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Kerusakan atau komplikasi akibat DM sangatlah luas. Mulai dari kerusakan pada pembuluh darah besar yang memicu penyakit jantung koroner dan stroke, kerusakan pada pembuluh darah kaki yang bisa berujung pada amputasi, kerusakan saraf (neuropati diabetik), hingga kerusakan pada mikrovaskular yang bisa berujung pada penurunan fungsi ginjal (neuropati diabetik) dan gangguan penglihatan (retinopati diabetik).

Diskusi media di Jakarta / Foto: Ngobras

Gejala Retinopati Diabetik

Sebuah studi populasi di Yogyakarta mengungkapkan, prevalensi retinopati diabetik (RD) mencapai 43,1% di antara pasien diabetes. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global 35,4%. Beban sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh RD cukup berat. Tanpa intervensi sistematis, kerugian ekonomi akibat penurunan kualitas hidup (Quality-Adjusted Life Years Lost) di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 84,7 triliun.

RD memang bukan komplikasi diabetes yang paling sering dijumpai, sehingga menjadi isu kesehatan yang jarang dibahas. “Akibatnya, muncul normalisasi yang kurang pas di tengah masyarakat bahwa gangguan fungsi penglihatan di usia tua akibat diabetes dianggap sebagai sesuatu yang wajar, padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah,” ujar Prof. Bayu.

Ia melanjutkan, kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata terjadi secara bertahap, “Membuat sebagian besar pasien sama sekali tidak menyadari ancamannya dalam lima tahun pertama diabetes.”

Pada fase awal, RD sering tidak menimbulkan gejala apa pun. Namun seiring waktu, bila kadar gula darah terus tinggi dan/atau tidak stabil, kerusakan pada pembuluh darah retina makin berat, dan akhirnya mulai muncul gejala.

Biasanya, kualitas penglihatan mulai berkurang. “Berkurangnya itu macam-macam. Bisa dari ketajaman penglihatan, bisa pula tingkat kecerahan yang berkurang. Kalau misalnya lampu 100 watt, terlihatnya seperti 80 atau 75 watt,” jelas Prof. Bayu. Itu sebabnya, makin sulit melihat di malam hari, saat kondisi lebih gelap.

Penglihatan terhadap warna juga mulai berkurang. “Merah jadi terlihat agak pink, kuning tampak agak pudar, atau biru jadi terlihat lebih muda,” lanjut Prof. Bayu.

Ia melanjutkan, hilangnya penglihatan akibat RD sering kali pelan-pelan. “Gangguannya perlahan dan sangat halus, tipis sekali, sehingga pasien tidak menyadarinya. Masih bisa nyetir, ke kamar mandi sendiri, dan beraktivitas. Jadi tidak tiba-tiba langsung tidak bisa melihat,” imbuhnya.

Foto Retina untuk Skrining RD

Prof. Bayu menegaskan, penting bagi penyandang diabetes untuk melakukan skrining retina secara berkala sesuai anjuran dokter. “Skriningnya sangat mudah dan sebetulnya bisa dilakukan di mana saja, dengan kamera fundus,” terangnya.

Salah satu masalah di Indonesia, jumlah dokter spesialis mata masih sangat terbatas, yaitu 1 per 116.961 penduduk. Kemitraan yang diinisiasi oleh Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) berupaya membangun proyek percontohan tele-ophthalmology komprehensif dari hulu ke hilir untuk menjembatani kesenjangan infrastruktur, termasuk kurangnya ketersediaan tenaga kesehatan mata.

Proyek percontohan akan dilakukan dengan menempatkan kamera retina (fundus camera) di fasilitas kesehatan primer (Puskesmas) serta melatih dokter umum dan perawat di sana. Dengan cara ini, diharapkan dapat menemukan kasus RD tersembunyi secara sistematis dan menghasilkan bukti ilmiah yang kuat untuk selanjutnya menjadi landasan pembuatan kebijakan pemerintah.

Menurut Prof. Bayu, hal serupa telah umum dilakukan di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa. “Di sana, pemeriksaan bahkan bisa dilakukan di mal, kios, toko, dan kedai-kedai. Kita bisa melakukan foto retina secara mandiri, lalu hasilnya disimpan ke HP untuk dikirim ke dokter. Sesederhana itu,” ujarnya.

Pemerintah memiliki program cek kesehatan gratis (CGK) sebagai upaya deteksi dini penyakit untuk seluruh warga Indonesia. Termasuk di antaranya, pemeriksaan diabetes. "Melalui program CKG, masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Dan kami sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes juga bisa melakukan skrining retina di Puskesmas demi memperluas akses deteksi dini," ucap Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi.

Saat ini, belum ada program skrining retinopati diabetik yang aktif di Puskesmas. Peralatan diagnostik yang diperlukan, seperti kamera retina, juga masih kurang. Proyek percontohan dari DRIVE diharapkan bisa memperluas akses diagnostik RD sehingga kondisi tersebut bisa lebih cepat ditemukan.

Upaya pencegahan kebutaan akibat retinopati diabetik membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. Roche mendukung pemerintah melalui pendanaan riset dan intervensi sistemik untuk memperbaiki alur skrining dan rujukan, dengan kesadaran bahwa inovasi tidak akan berdampak tanpa akses layanan dasar yang memadai. “Kami berkomitmen melawan retinopati diabetik sebagai penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah, dengan memperkuat skrining dan rujukan agar pasien mendapat penanganan tepat waktu,” pungkas Lucia Erniawati, Direktur Akses, Komunikasi dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia. (nid)

____________________________________________

Ilustrasi: Image by magnific