Ada hubungan yang saling terkait antara diabetes, kolesterol dan penyakit jantung. Itu sebabnya setiap penderita diabetes wajib menjaga kadar koleseterol mereka, sebagai pencegahan serangan jantung.
Dalam pertemuan ilmiah tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2026 dipaparkan bila hanya 4,9% pasien diabetes melitus tipe 2 dengan risiko kardiovaskular tinggi yang mencapai target kolesetol LDL (low-density lipoprotein atau kolesterol jahat) di bawah 55 mg/dL.
Dislipidemia pada pasien diabetes, merupakan faktor utama yang meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular (penyakit jantung atau stroke). Oleh karena itu terapi diabetes tidak berhenti pada pengendalian gula darah, tetapi juga mengelola lipid, termasuk mengendalikan kolesterol jahat.
Berdasarkan data World Heart Federation (WHF), penyakit kardiovaskular menyebabkan 765.660 kematian di Indonesia pada tahun 2021. Penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa dislipidemia banyak ditemukan pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Berdasarkan studi tahun 2025 yang dipublikasikan dalam Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal, dislipidemia ditemukan pada 74% dari 100 pasien diabetes melitus tipe 2 yang diteliti. Di antara 40 pasien yang menderita diabetes melitus tipe 2 sekaligus penyakit arteri koroner, sebanyak 85% mengalami dislipidemia.
Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total >240 mg/dl, LDL >160 mg/dl, trigliserida >200 mg/dl, serta penurunan HDL (high density lipoprotein, atau kolesterol baik) kurang dari 40 mg/dl.
European Society of Cardiology (ESC) merekomendasikan mereka dengan faktor risiko kardiovaskular tinggi, seperti pernah mengalami serangan jantung, atau memiliki diabetes dengan berbagai komplikasinya, atau gangguan ginjal berat, target LDL kolesterol adalah < 55 mg/dL.
Sementara pada penderita diabetes usia muda, atau menderita diabetes <10 tahun tanpa komplikasi lain target LDL kolesterol adalah <100 mg/dL.
Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care, mengatakan, “Dalam praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes melitus tipe 2 sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular secara bersamaan. Oleh karena itu, upaya menurunkan kadar LDL secara aktif merupakan prioritas terapi yang penting.”
Pada kasus dislipidemia, walau target utamanya adalah penurunan LDL, juga perlu memperhatikan kolesterol non-HDL lain, seperti trigliserida dan apolipoprotein B (apoB) - protein yang berhubungan dengan proses terjadinya penumpukan plak pembuluh darah.
Sayangnya pemeriksaan apoB mahal, tetapi bisa diganti dengan periksa non-HDL kolesterol, karena nilai non-HDL kolesterol itu linear dengan kadar apoB.
Monoterapi atau terapi kombinasi?
Untuk meningkatkan rendahnya angka pencapaian target LDL pada pasien berisiko tinggi, strategi pengobatan perlu disesuaikan dan dioptimalkan berdasarkan profil risiko kardiovaskular masing-masing pasien.
Pedoman internasional saat ini juga secara konsisten merekomendasikan dimulainya terapi penurun lipid berbasis bukti sedini mungkin serta pencapaian target LDL-C secara cepat,” imbuh Prof. Sidar, dimikian ia biasa disapa.
Prof. Da-Hye Seo dari Divisi Endokrinologi Inha University Hospital, Korea Selatan, yang hadir sebagai pembicara internasional dalam simposium tersebut, mengatakan, “Pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk pengendalian kadar LDL-C.”
“Bagi pasien yang mengalami kesulitan mencapai target hanya dengan monoterapi, terapi kombinasi yang secara bersamaan menargetkan sintesis dan penyerapan kolesterol dapat menjadi salah satu pilihan pengobatan.”
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah perubahan gaya hidup, mulai dari konsumsi makanan tinggi serat, kurangi makanan berlemak jenuh, takar asupan gula, hingga olahraga teratur.
Jika target LDL kolesterol tidak tercapai berarti membutuhkan terapi obat, seperti golongan statin (untuk terapi lini pertama) dan asam fibrate sebagai terapi kombinasi. Fibrate memiliki efek penurunan LDL kolesterol antara 5-20%, meningkatkan HDL hingga 10-35%, dan penurunan trigliserida yang signifikan (20-50%).
Pilihan terapi lain adalah kombinasi rosuvastatin + ezetimibe, yang bekerja dengan menargetkan sintesis kolesterol di hati sekaligus penyerapan kolesterol di usus. (jie)
Baca juga: Bagaimana Minuman Manis Bisa Memengaruhi Kolesterol dan Kesehatan Jantung





