Herpes zoster atau cacar api (cacar ular) disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster (VZV), virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Ini adalah penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi serius dan berkepanjangan.
Pada usia 50 tahun, kebanyakan orang dewasa telah memiliki VZV yang sedang dorman (tidak aktif) di sistem saraf mereka, yang dapat mengalami reaktivasi seiring bertambahnya usia. Sementera, seiring usia yang bertambah kekuatan respons sistem kekebalan terhadap infeksi menurun, meningkatkan risiko terkena herpes zoster.
Cacar api biasanya muncul sebagai ruam, dengan lepuh yang menyakitkan di dada, perut atau wajah. Rasa sakit sering digambarkan sebagai sakit terbakar, tertusuk atau seperti tersetrum.
Selain ruam, seseorang juga dapat mengalami neuralgia pasca-herpes (NPH), nyeri saraf yang dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan- bulan dan kadang dapat bertahan selama beberapa tahun.
NPH adalah komplikasi cacar api yang paling umum, terjadi pada 5-30% dari semua kasus cacar api tergantung pada usia individu. Cacar api juga dapat mempengaruhi mata, di mana dalam kasus yang jarang terjadi, dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.
Herpes zoster dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa dalam hidup mereka. Alasannya, studi global menjelaskan bahwa beberapa penyakit kronis meningkatkan risiko terkena cacar api, seperti penyakit jantung (CVD) sebesar 34%, penyakit ginjal (PGK) 29%, diabetes (38%), atau PPOK atau asma hingga 41%.
Studi Sayekti MA (2025) menyebutkan pada populasi Indonesia, risiko tertinggi terkena cacar api adalah pada pengidap HIV/AIDS (3,22 kali), diikuti kanker (2,17 kali) dan penyakit autoimun (1,3–2 kali). Risiko juga meningkat pada penderita PPOK (1,41 kali), penyakit kardiovaskular (1,34 kali), dan diabetes (1,24 kali).
Selain penyakit penyerta, faktor lain seperti usia lanjut, riwayat cacar api sebelumnya, stres, serta jenis kelamin perempuan juga berperan dalam meningkatkan risiko terkena cacar api.
Hal ini sejalan dengan pendapat dr. Nurwestu Rusetiyanti, MKes, SpDVE, Subsp.Ven, anggota PERDOSKI, yang menyatakan “Berdasarkan berbagai artikel penelitian, risiko terkena herpes zoster memang lebih tinggi pada kelompok tertentu yaitu kondisi immunokompromi, seperti penderita HIV/AIDS, pasien dengan penyakit keganasan, serta mereka yang berusia lanjut, riwayat keluarga dengan herpes zoster dan jenis kelamin perempuan.”
Biaya pengobatan meningkat
Sebuah survei yang dilakukan oleh GSK dalam kampanye Shingles Action Week 2026 mendapati bahwa 78% responden khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan 72% khawatir penyakit ini dapat menyebabkan rawat inap jangka panjang di rumah sakit.
Survei tersebut juga menyatakan satu dari empat (25%) penderita penyakit kronis menganggap penyakit mereka tidak berpengaruh pada imunitas maupun risiko terkena herpes zoster.
Sayangnya, lebih dari separuh (54%) responden belum pernah membicarakan cacar api dengan dokter mereka. Survei ini melibatkan 6.103 orang dewasa, usia 50-70 tahun, di 10 negara.
Sementra itu, dalam periode 2015 - 2022, tercatat setidaknya 390.000 kasus cacar api di 10 provinsi besar di Indonesia, berdasarkan data BPJS Kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (seperti puskesmas dan klinik).
Pada tahun 2021 sendiri, pengeluaran BPJS untuk penanganan kasus (rawat jalan dan rawat inap) ini mencapai Rp27,1 miliar—tertinggi sepanjang periode pengamatan.
Di tingkat individu, biaya perawatan juga tidak ringan, dengan rawat inap mencapai hingga Rp10 juta per kasus dan rawat jalan hingga Rp3 juta. Besarnya beban ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan sejak dini.
Vaksinasi
Vaksinasi herpes zoster memiliki efikasi >90% pada pasien di atas usia 50 tahun, dan manfaat perlindungannya bertahan hingga 10 tahun setelah vaksinasi. Vaksin sudah bisa diberikan sejak usia 18 tahun ke atas.
Vaksin herpes zoster menurunkan nyeri dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Vaksini Ini adalah vaksin rekombinan atau vaksin mati yang aman untuk pasien imunokompromi karena tidak menyebabkan sakit.
Meskipun utamanya berperan sebagai pencegahan, vaksinasi tetap bermanfaat untuk mereka yang sudah pernah menderita herpes zoster. (jie)
Baca juga: Vaksin Yang Diperlukan Lansia Untuk Mencegah Sakit Berat





