Anak-anak memakai kacamata tebal mungkin terlihat lucu, tetapi sejatinya ini adalah hal yang menyedihkan. Kacamata membantu si kecil untuk melihat dengan normal, tetapi di satu sisi membatasi aktivitas.
Seorang pemakai kacamata memahami bagaimana menyusahkannya benda ini, membuat tidak bisa leluasa berolahraga misalnya, gampang berembun jika memakai masker, lupa menaruh dan lainnya. Bayangkan jika ini dialami anak-anak yang sedang aktif-aktifnya.
Dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), dari JEC Eye Hospitals and Clinics, menjelaskan, sejak pandemi COVID-19 kejadian anak-anak berkacamata tebal meningkat. Studi menunjukkan, gejala computer vision syndrome (CVS) naik hingga 77%. Ini sangat berhubungan dengan lama menatap layar gawai.
“Semakin banyak screen time (waktu menggunakan gawai), pelajaran sekarang semuanya juga dari gadget, dari handphone nanti nyambung ke laptop, itu sangat mempengaruhi,” ujar dokter yang akrab disapa Tasya ini.
Selain itu juga dipengaruhi oleh perubahan panjang bola mata. Layaknya pertumbuhan tinggi badan, panjang bola mata juga bertambah dari lahir hingga usia 18 tahun. Kelainan refraksi (mata minus, plus atau silinder) pada anak berkaitan erat dengan pertumbuhan fisik dan perubahan panjang bola mata (sumbu aksial) yang membuat fokus cahaya tidak jatuh tepat di retina.
Seiring bertambahnya usia anak, ukuran bola mata yang tumbuh memanjang secara alami dapat mempengaruhi derajat minus atau plus pada mata.
“Jadi kalau dalam masa pertumbuhannya kurang bagus, misalnya baca sambil tiduran (miring) kanan atau kiri itu bisa bikin silindernya naik. Tetapi kalau mata minus (miopia) itu lebih ke arah yang mestinya jarak baca itu 30 cm ia bacanya lebih (sangat) dekat. Itu tidak bagus, membuat autofokusnya ke arah minus (titik cahaya jatuh di depan retina),” terang dr. Tasya, dalam bincang-bincang Tak Semua Kelainan Refraksi Membutuhkan Prosedur yang Sama, di Jakarta (29/7/2026).
Sebagai informasi, jarak pandang saat menggunakan ponsel minimal 30 cm, sementara untuk komputer/laptop adalah 60 cm.
Genetik atau masalah kebiasaan?
Pada anak-anak, bahkan usia balita, pada umumnya pemakaian kacamata disebabkan oleh faktor genetik. Anak dari orangtua yang berkacamata lebih mungkin untuk juga akan memakai kacamata.
“Faktor genetik lebih besar risikonya dibanding faktor kebiasaan. Tetapi tetap, kebiasaan yang buruk akan memperparah genetiknya. Dua-duanya saling berkaitan,” imbuh dr. Tasya.
Ini berarti bila secara genetik berisiko untuk memakai kacamata, minimalkan kebiasaan-kebiasaan yang akan memperparah, seperti menggunakan gawai terlalu lama / menatap layar tanpa jeda, jarak pandang terlalu dekat, mengucek mata terlalu keras, dll.
Pencahayaan dalam ruang juga sangat penting. Membaca atau menatap layar gadget di ruang redup membuat mata bekerja ekstra. Atur pula tingkat kekontrasan layar pada gawai agar nyaman di mata. Menatap ponsel sebelum tidur saat lampu sudah dimatikan adalah BIG NO!
“Kalau dari genetiknya bapak atau ibunya sudah pakai kacamata tebal, sebisa mungkin jangan melakukan kegiatan yang kita tahu bisa memperparah,” dr. Tasya menegaskan. “Anak-anak sekarang itu screen time-nya banyak, jadi memang harus pintar-pintar dibatasi, kira-kira 2-3 jam istirahat.”
Salah satu rekomendasi yang disarankan adalah dengan menerapkan metode 20-20-20. Setiap 20 menit menatap gawai, palingkan mata selama 20 detik untuk melihat objek berjarak 20 meter. Fokuskan mata pada target pandang yang jauh dan warna yang lebih segar, seperti hijau dan biru.
Ortho-K sebagai alternatif kacamata
Selain menggunakan kacamata, kelainan refraksi pada anak-anak bisa dikoreksi menggunakan Ortho-K (orthokeratologi).
Berbeda dengan kacamata atau lensa kontak yang harus dipakai saat beraktivitas, Ortho-K hanya digunakan ketika tidur (malam). Ia akan mengoreksi kornea - mendatarkan kornea seperti mata normal – selama tidur, sehingga saat terbangun dan beraktivitas di siang hari tidak perlu lagi memakai kacamata.
Namun perlu dicatat, tindakan koreksi kornea oleh Ortho-K bersifat sementara. Kornea mata akan kembali ke bentuk semula jika pemakaian Ortho-K dihentikan. (jie)
Baca: Ortho-K: Lensa untuk Mata Minus yang Dipakai saat Tidur





