Zat besi adalah salah satu mikronutrisi berupa mineral yang sangat penting bagi tubuh, terutama untuk anak-anak dan ibu hamil. Sebagaimana diketahui, zat besi dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobin (Hb). Kekurangan zat besi bisa berujung pada anemia.
Berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi anemia pada anak usia 0-4 tahun mencapai 23,8%, dan 16,3% di usia 5-14 tahun. Pada Ibu Hamil, secara global WHO mencatat kasus anemia sekitar 37%. Sebagian besar kasus anemia disebabka oleh kurangnya asupan zat besi sehari-hari.
Tidak hanya itu, zat besi juga krusial untuk mendukung kemampuan kognitif seperti fokus/konsentrasi dan daya ingat, dan aktivitas belajar anak. “Zat besi penting untuk pembentukan mielin di otak. Kalau anak kekurangan zat besi, dampaknya bukan cuma anemia, tapi IQ juga turun,” ungkap dr. Lucky Yogasatria Sp.A, Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi.
Awalnya, kekurangan zat besi tidak terlihat. Anak masih tampak sehat, ceria, dan baik-baik saja. Namun jika kadar zat besi terus turun, Hb mulai turun, anemia, barulah anak tampak lemas. “Tapi ini sudah tanda terakhir. Begitu anak sudah kekurangan zat besi dalam darah, perkembangan otak, pembentukan serabut mielin dan nurotransmitternya itu tidak sebaik anak-anak yang zat besinya cukup,” tutur dr. Lucky, dalam media edukasi bersama Combiphar di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Kapan Bayi Perlu Diberi Zat Besi?
Bayi masih memiliki cadangan zat besi dari ibu setelah lahir. Namun, cadangan ini perlahan akan menurun, sehingga bayi perlu mendapatkan tambahan zat besi dari luar. “Pemberian zat besi direkomendasikan dari usia empat bulan sampai minimal dua tahun,” terang dr. Lucky.
Pada bayi dengan risiko tinggi, zat besi bisa diberikan lebih cepat lagi, dari usia satu bulan. “Yaitu pada bayi dengan ibu yang anemia. Bayangkan, ibu saja kekurangan zat besi untuk dirinya sendiri, bagaimana bisa memberikannya untuk bayi yang otaknya sedang berkembang,” tuturnya.
Untuk itu, ibu pun perlu mengonsumsi zat besi selama hamil, sebelum hamil, bahkan sejak remaja. Pada masa kehamilan, kecukupan zat besi sangat penting untuk mendukung kesehatan ibu, pertumbuhan janin, serta membantu menurunkan risiko bayi lahir dengan cadangan zat besi yang rendah, sehingga dapat menekan potensi kekurangan zat besi pada bayi sejak awal kehidupan.
Tidak Semua Zat Besi Sama
Bayi usia 6 bulan ke atas membutuhkan 11 mg zat besi per hari. Asupan zat besi bisa didapatkan dari MPASI yang kaya akan sumber zat besi, baik yang heme dari hewani, maupun non-heme seperti sayuran berdaun hijau. Namun, hal ini tidak selalu mudah; 11 mg zat besi setara dengan sekitar 400 gr daging sapi atau 100 mg hati ayam. Pada bayi yang baru mendapat MPASI dan belajar makan, hal tersebut mungkin tidak selalu bisa terpenuhi setiap hari.
“Kalau makannya bagus, zat besi bisa terpenuhi. Tapi kalau makanan tidak bisa mencukupi, maka perlu diberikan suplementasi. Targetnya agar kebutuhan harian zat besi terpenuhi,” tegas dr. Lucky. Suplemen zat besi bisa diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan harian zat besi pada bayi dan anak.
Menariknya, ternyata tidak semua suplemen zat besi sama. Umumnya, suplemen zat besi menggunakan garam feros. Dalam bentuk garam feros, zat besi dilepaskan secara pasif sesuai dosis yang diasup, berapa pun kebutuhan zat besi.
Suplemen zat besi dalam bentuk Iron Polymaltose Complex (IPC) memiliki mekanisme yang unik. Pelepasan zat besi dilakukan secara terkendali, sesuai kebutuhan tubuh, serta lebih nyaman di lambung, “Risiko terjadinya penumpukan zat besi dalam tubuh berkurang. Efek samping dari zat besi seperti mual, muntah dan konstipasi juga minimal,” ungkap Debi Widianti, Senior General Manager Marketing PT Combiphar.
Keuntungan lainnya, suplemen zat besi IPC bisa dikonsumsi kapan saja tanpa perlu jeda dari makan dan minum, karena tidak memengaruhi saluran cerna. “Ini berbeda dengan zat besi berbentuk garam feros, yang sebaiknya dikonsumsi saat perut kosong, yaitu 1-2 jam sebelum atau sesudah makan, untuk mengurangi risiko efek mual,” imbuh Debi.
Maltofer, suplemen zat besi dalam bentuk IPC dari Combiphar, tersedia dalam empat sediaan sesuai usia. Ada yang untuk bayi dan balita, anak-anak, remaja hingga dewasa, serta ibu hamil. (nid)
_____________________________________________
Ilustrasi: Image by jcomp on Freepik





