3 jenis sindrom iritasi usus

Ini Beda 3 Tipe Sindrom Iritasi Usus (IBS)

Sindrom iritasi usus atau (irritable bowel syndrome/IBS) menyebabkan nyeri perut dan perubahan pola defikasi, baik itu diare atau sembelit. 

Gejalanya bisa ringan hingga berat, datang dan pergi, atau perubahan intensitas (berat/ringan) seiring waktu. 

Ada tiga jenis IBS berdasarkan apakah penderita mengalami diare, sembelit atau keduanya.

IBS-D

IBS dengan diare (IBS-D) merupakan tipe yang paling banyak dijumpai, dialami oleh sekitar 40% penderita sindrom ini.

Penyebab pasti IBS-D belum diketahui, namun salah satu studi di European Journal of Nutrition menyebutkan ini bisa dipengaruhi oleh perubahan mikrobiota usus, trilyunan bakteria, jamur dan mikroorganisme lain yang hidup di usus dan membantu proses pencernaan. 

Kondisi disbiosis – ketidakseimbangan mikrobiota usus di mana jumlah bakteri baik kalah dibanding patogen – akan mempengaruhi jalur komunikasi antara usus – otak (gut-brain axis).

Ewa Dudzińska, et all, menyebutkan gangguan komunikasi ini bisa menyebabkan makanan bergerak terlalu cepat di usus, menyebabkan diare, kram perut, kembung/begah, dll. Disbiosis bisa juga memicu saraf-saraf di usus menjadi lebih sensitif, sehingga bahkan pergerakan normal makanan atau gas melalui usus dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.

Gangguan ini signifikan menurunkan kualitas hidup, menyebabkan kelelahan, bahkan depresi. 

IBS-C

IBS-C bila jika disertai constipation (sembelit). Lebih banyak dialami oleh perempuan. Sindrom ini kerap berkembang pada remaja dan dewasa muda, tetapi juga bisa mempengaruhi orang dari segala usia. 

Seperti halnya IBS-D, tipe ini juga belum diketahui benar penyebabnya. Ada beberapa faktor yang berkontribusi memicu sindrom iritasi usus dengan konstipasi. 

Disbiosis ditengarai menjadi salah satu penyebabnya, karena mampu menyebabkan perlambatan gerakan (motilitas) usus. Ini berarti makanan dan feses bergerak di usus lebih lambat dibanding seharusnya. Akibatnya usus besar menyerap kembali air dari tinja, membuat feses keras dan sulit dikeluarkan. 

Konstipasi juga dihubungkan dengan kurang asupan serat. Serat membantu menambah volume tinja dan mendorong pergerakan sisa makanan melalui usus. 

Faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah sensitivitas pada makanan tertentu, seperti gluten, diary dan makanan tinggi lemak. Riset di World Journal of Gastroenterology menjelaskan bahkan konsumsi makanan tersebut dalam jumlah kecil bisa mengiritasi pencernaan, memicu atau memperburuk kondisi sembelit. 

IBS-M

Ini adalah sindrom iritasi usus dengan gejala campuran (mixed), antara diare dan konstipasi. Bentuk IBS ini bisa lebih kompleks untuk ditangani, karena gejala bisa berubah secara tiba-tiba. IBS-M mempengaruhi baik pria atau wanita secara merata. 

Meskipun penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, studi Judy Nee, dkk, menyebutkan ketidakseimbangan mikrobioma usus (disbiosis) berpengaruh. 

Gangguan gut-brain axis menyebabkan ketidakseimbangan motilitas usus, di mana usus bergantian antara menggerakkan makanan terlalu cepat (menyebabkan diare) atau terlalu lambat (memicu sembelit). Gerakan yang tidak teratur ini mengganggu pencernaan dan membuat proses defekasi tidak dapat diprediksi. 

Stres atau konsumsi makanan tertentu bisa mengakibatkan perburukan gejala dan meningkatkan kemungkinan perubahan kebiasaan BAB yang cepat dan tidak nyaman. 

Bagaimana IBS diobati?

Sampai saat sindrom iritasi usus belum bisa disembuhkan secara total, namun bukan berarti gejala tidak bisa dikontrol atau mencegahnya menjadi lebih berat.

Sangat dianjurkan melakukan perubahan pola makan, antara lain dengan konsumsi makanan dalam porsi kecil namun lebih sering. Konsumsi juga serat larut air seperti dalam buah-buahan, kacang-kacangan karena akan memperbaiki konsistensi feses dan frekuensi BAB. 

Baca: Ini Alasan Kenapa Penderita IBS Perlu Lebih Sering Ngemil

Diet rendah FODMAP direkomendasikan untuk penderita IBS. FODMAP (Fermentable Oligosaccharides Disaccharides Monosaccharides and Polyols) merupakan pola makan eliminasi sementara (membatasi) jenis karbohidrat rantai pendek tertentu yang sulit diserap usus, seperti produk susu, gandum dan rye, serta buah-buahan tertentu. 

Penderita IBS juga perlu menjaga tingkat stres mereka. Stres dan tekanan psikologis akan memicu atau memperburuk gejala. Teknik manajemen stres seperti meditasi dan latihan pernapasan dapat membantu mengurangi stres. 

Tidak kalah penting adalah olahraga teratur. Aktivitas fisik bisa mendukung kesehatan pencernaan, sekaligus mengurangi stres. Olahraga akan meningkatkan aliran darah, termasuk ke usus, sehingga merangsang pergerakan usus. (jie)

Baca juga: IBD Berkaitan dengan Mikrobiota Usus, Seperti Apa Peranan Probiotik?