makanan ultra proses merusak otot

Bahaya Tersembunyi Makanan Ultra Proses: Lemak ‘Merusak’ Otot

Konsumsi makanan ultra proses (UPF) banyak dikaitkan dengan risiko penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes. Studi baru mengungkap adanya dampak negatif untuk kesehatan otot. 

Riset yang diterbitkan di jurnal Radiology melaporkan banyaknya konsumsi makanan ultra proses berkaitan dengan ‘penyusupan’ lemak di otot paha yang lebih banyak.

Secara khusus studi ini melibatkan lebih dari 600 partisipan yang berisiko tinggi mengalami osteoarthritis (radang sendi), terutama sendi lutut.  

Sebagai catatan, makanan ultra proses mengandung aditif (pengawet, penguat rasa, dll), serta kadar gula dan garam yang tinggi. Bagaimana makanan ultra olahan ini berhubungan dengan kualitas otot belum menjadi fokus utama penelitian. 

Analisis ini merupakan analisis sekunder yang menggunakan informasi dasar dari studi jangka panjang yang disebut Osteoarthritis Initiative. Peserta tidak/belum memiliki gangguan osteoarthritis lutut, atau kondisi lain seperti rheumatoid arthritis (radang sendi karena penyakit autoimun) atau diabetes. Namun, sebagian partisipan memiliki gejala awal osteoarthritis. 

Rerata usia mereka di bawah 60 tahun, dengan hampir dua per tiga kelebihan berat badan, dan kurang sepertiga yang mengalami obesitas. 

Peneliti memakai data/laporan tentang pola makan dan mengevaluasi konsumsi makanan ultra proses dari masing-masing partisipan. Mereka melihat hasil MRI paha untuk menilai infiltrasi lemak ke dalam otot, dengan fokus pada 10 otot berbeda di paha. 

Para ahli menemukan secara keseluruhan, semakin tinggi konsumsi makanan ultra proses berkaitan dengan tingkat infiltrasi lemak yang lebih tinggi ke otot paha. 

Zehra Akkaya, MD, salah satu peneliti dan associate professor radiologi di fakultas kedokteran Universitas Ankara, Turki, menjelaskan, “Dalam studi terhadap lebih dari 600 orang dewasa yang berisiko terkena osteoartritis lutut, kami menemukan bahwa kualitas diet berperan penting dalam kesehatan otot.” 

“Secara khusus, terlepas dari total asupan kalori atau konsumsi lemak secara keseluruhan, asupan makanan ultra olahan yang lebih tinggi dikaitkan dengan kandungan lemak yang lebih banyak di dalam otot paha, seperti yang terlihat pada hasil MRI,” jelasnya, melansir Medical News Today. 

Lebih spesifik, otot adduktor (otot paha dalam) adalah otot yang memiliki hubungan terkuat dengan konsumsi makanan ultra proses dalam model yang disesuaikan dengan lingkar perut.  

Secara keseluruhan, wanita memiliki tingkat infiltrasi lemak di otot paha yang lebih tinggi daripada pria. Namun, hubungan antara makanan ultra olahan dan masuknya lemak ke otot paha tampaknya tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. 

Analisa peneliti juga menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi UPF dengan masuknya lemak ke semua otot paha, serta kelompok otot adduktor dan fleksor (otot untuk menekuk sendi). 

Sedangkan untuk otot ekstensor (otot untuk meluruskan/merentangkan sendi) tetap signifikan dalam model yang disesuaikan dengan lingkar perut. 

Selain itu, hubungan antara mengonsumsi makanan ultra proses dan masuknya lemak ke dalam otot lebih kuat pada partisipan yang mengalami kondisi (kerusakan) lutut yang lebih berat.

Lantas apa dampaknya untuk kesehatan secara umum?

Patrick Kee, MD, PhD, kardiolog di Vital Heart & Vein, yang tidak terlibat pada riset ini, berkomentar, “Karena kualitas otot sangat penting untuk stabilitas sendi, degenerasi otot paha oleh lemak yang disebabkan UPF dapat mempercepat timbulnya dan perkembangan osteoarthritis lutut, penyebab utama kecacatan secara global.” 

Ia menekankan, diperlukan intervensi kesehatan masyarakat dan klinis yang menargetkan kualitas diet. Khususnya mengurangi konsumsi makanan ultra olahan dan lebih memilih makanan yang diolah seminimal mungkin. 

“Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga integritas otot rangka dan mengurangi adipositas visceral ektopik,” katanya. 

Sebagai informasi, adipositas visceral etopik adalah kondisi ketika lemak tubuh tidak hanya menunpuk di bawah kulit (subkutan), tetapi berlebihan di dalam rongga perut (visceral) dan bahkan tersimpan di organ-organ yang seharusnya tidak menyimpan lemak (ektopik). 

Hasil studi ini juga secara lebih luas menunjukkan alasan lain untuk membatasi konsumsi makanan ultra olahan. (jie)    

Baca juga: Pangkas Konsumsi Makanan Ultra Proses Turunkan Risiko Diabetes