Prevalensi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia, sekitar 1,4 juta orang dengan mortalitas mencapai 8,1%. Mayoritas pasien terlambat terdiagnosis, bahkan baru mendapat kepastian diagnosis ketika sudah mengalami kerusakan organ.
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan jaringan sehat, sehingga menyerang organ tubuh sendiri dan memicu peradangan kronis.
Kondisi ini membuat SLE memiliki manifestasi klinis yang sangat beragam dan sering kali menyerupai penyakit lain.
“SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang,” ujar dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR.
Secara global, SLE masih menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi, namun belum teridentifikasi secara optimal di berbagai negara akibat keterbatasan data epidemiologi.
Insidensi di Indonesia diperkirakan mencapai 7,4 per 100.000 orang per tahun. Indonesia juga menempati peringkat keempat secara global dalam jumlah perempuan usia produktif (15-45 tahun) dengan SLE.
Terdeteksi setelah kerusakan organ
Secara klinis, SLE dipicu oleh aktivitas sistem imun yang berlebihan. Salah satu mekanisme penting yang berperan dalam proses inflamasi pada SLE adalah jalur Interferon Tipe I yang dapat membuat tubuh berada secara terus menerus dalam kondisi menyerang dirinya sendiri.
Jika tidak terdeteksi dan ditangani secara tepat, peradangan kronis ini dapat menyebabkan kerusakan organ yang bersifat permanen.
“Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Tantangan yang sering kami temui adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks,” tambah dr. Sandra.
Keterlambatan diagnosis dan penanganan SLE dapat memberikan dampak dan berpengaruh terhadap pasien. Data menunjukkan sekitar 82% pasien mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan; 43,9% mengalami ketidakhadiran di sekolah atau pekerjaan; 32,5% terpaksa berhenti bekerja sepenuhnya; dan sekitar 50% menghadapi dampak psikologis yang signifikan akibat perjalanan penyakit yang panjang.
Lupus tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mempengaruhi kondisi psikologis, aktivitas harian, serta kemampuan pasien untuk tetap produktif.
Terapi biologis pertama di Indonesia
Saat ini, penanganan penyakit lupus tidak hanya berfokus pada mengatasi flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi. Dalam jangka panjang, pendekatan ini bertujuan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah secara konsisten, mencegah kerusakan organ, serta meminimalkan penggunaan glukokortikoid (obat steroid untuk mengatasi peradangan) jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping.
Salah satu inovasi terbaru adalah Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk SLE, yang bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I.
Anifrolumab bekerja dengan menghambat sinyal melalui reseptor Interferon Tipe I, jalur yang diketahui berperan dalam perkembangan penyakit lupus. Pendekatan ini menjadi bagian dari perkembangan terapi yang lebih terarah untuk membantu pasien dengan SLE aktif pada kategori sedang hingga berat, sesuai evaluasi dan pengawasan dokter.
“Meski SLE merupakan penyakit kronis, pasien tetap memiliki harapan untuk menjalani hidup berkualitas baik. Kuncinya adalah kontrol rutin, pemantauan dokter secara berkala, serta kepatuhan dalam menjalani terapi optimal. Pasien berpeluang mencapai remisi yang lebih dini dan berkelanjutan, serta terlindungi dari risiko kerusakan organ jangka panjang,” tutup dr. Sandra. (Jie)




