Paparan matahari akan membuat lensa mata mengalami perubahan yang lebih cepat. Jika secara alamiah katarak terjadi di usia lanjut, mereka yang kerap terpapar matahari langsung berisiko lebih cepat alami katarak.
Katarak umumnya dialami oleh orang lanjut usia (60 tahun ke atas). Tetapi kondisi ini bisa juga terjadi pada usia yang lebih muda. Dr. Nina Asrini Noor, SpM, Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group, mengatakan, “Masyarakat kita belum terbiasa menggunakan proteksi mata ketika sedang beraktivitas di luar ruangan, yang papar UV (ultra violet) -nya tinggi.”
“Paparan matahari bukan berarti kita benar-benar di luar (ruangan) kena sinar matahari, tetapi kita sedang menyetir di dalam mobil pun kita terpapar UV. Apalagi kita sedang jalan outdoor, misalnya lagi lunch break, gunakanlah kacamata yang ada UV filternya,” tambahnya.
Paparan sinar UV akan merusak protein di mata. Seperti dampak sinar UV ke kulit, partikel-partikel UV tersebut menembus mata dan memecah protein alami lensa mata, menyebabkan kekeruhan. Salain itu paparan sinar UV juga mempercepat proses penuaan yang adalah penyebab utama katarak.
Pemakaian proteksi mata, misalnya kacamata atau topi, akan mengurangi percepatan terjadinya katakar. “Katarak akan tetap terjadi, tetapi kan kita inginya tidak terlalu cepat. Karena ketika katarak itu terjadi, tidak bisa mundur lagi. Kalau ingin dihilangkan jadinya harus intervensi, harus operasi,” ujar dr. Nina kepada OTC Digest.
Perlu diingat, Indonesia secara alamiah dianugerahi dengan sinar matahari yang melimpah, ini menyebabkan kita juga berisiko berada di area dengan paparan UV tinggi (high UV exposure).
“Bukan berarti kalau sedang mendung terus tidak pakai kacamata, tetap pakai. Apalagi kalau paparan UV-nya ekstrem. Itu mungkin perlu pakai double protection, pakai kacamata dan topi, untuk benar-benar meminimalisir efek sinar matahari ke mata secara langsung,” dr. Nina menambahkan.
Sebagai informasi, fenomena El Nino memicu cuaca panas terik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan potensi paparan dan radiasi sinar matahari ekstrem terjadi di awal Oktober, saat posisi matahari tepat di atas kepala (sudut 90 derajat).
Katarak tidak hanya bisa terjadi lanjut usia, ia bisa terjadi di usia yang lebih muda, misalnya 40 tahunan. Berisiko mengganggu aktivitas sehari-hari dan produktivitas.
Faktor-faktor yang mempercepat katarak
Ada beberapa hal yang mempercepat munculnya katarak, seperti:
- Paparan sinar matahari
- Individu dengan mata minus tinggi
- Penderita diabetes
- Kerap memakai obat tetes mata tanpa anjuran dokter
Bagaimana memilih kacamata yang tepat?
Untuk mendapatkan manfaat perlindungan yang maksimal, pertimbangkan hal ini saat memilih kacamata:
- Perlindungan UV 100%. Jangan memilih kacamata sekedar untuk mengikuti tren. Carilah kacamata dengan label atau stiker yang secara eksplisit menyatakan "perlindungan UVA/UVB 100%" atau "UV400".
- Peringkat UV400. Filter khusus ini memblokir sinar cahaya hingga 400 nanometer, memastikan bahwa hampir semua radiasi UV berbahaya terhalang masuk ke mata Anda.
- Kacamata polarisasi bukanlah UV filter. Banyak orang salah mengartikan lensa terpolarisasi sebagai filter UV. Lensa terpolarisasi hanya mengurangi silau; lensa ini tidak secara otomatis memblokir sinar UV kecuali dinyatakan secara khusus.
- Model kacamata melingkar. Sinar UV dapat memantul dari permukaan seperti air, pasir, dan trotoar ke sisi kacamata Anda. Bingkai besar, melingkar, atau berukuran besar menawarkan perlindungan paling komprehensif.
Kapan perlu periksa mata?
Medical check up mata terutama direkomendasikan pada mereka yang berusia usia 40 tahun ke atas, untuk menilai kesehatan mata secara keseluruhan.
Perkembangan katarak bisa tidak terasa – karena pada dasarnya sangat lambat. “Kita sebagai anggota keluarga perlu memperhatikan kok bapak/ibu mulai sering tersandung, atau tidak mau lagi nyetir jauh. Ajak mereka (periksa mata) tanpa perlu matanya menjadi buram,” saran dr. Nina.
Individu yang sudah mengeluhkan pandangannya buram, biasanya sudah pada katarak tahap lanjut. “Secara kasat mata bisa tidak terlihat sama sekali, area hitam mata tidak (harus) menjadi abu-abu, benar-benar cuma yang di tengahnya saja.”
“Harus memakai lampu senter, pinggirannya hitam, tengahnya putih. Jujur kalau sudah seperti ini berarti sudah terlambat, karena itu sudah sangat nyata sampai dengan lampu senter saja kelihatan. Kalau bisa kita lakukan deteksi dini, jangan sampai kondisi seperti itu,” pungkasnya. (jie)





