mitos dan fakta cacar api
mitos dan fakta cacar api

3 Mitos dan Fakta Seputar Cacar Api

Masih banyak orang yang belum paham terkait cacar api (herpes zoster), bahkan tidak jarang menganggap remeh penyakit ini. Informasi yang salah bisa menyebabkan tidak melakukan langkah preventif, atau sebaliknya melakukan tindakan yang berlebihan yang belum tentu bermanfaat. 

Cacar api disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster (VZV), virus yang sama yang menyebabkan cacarair. Herpes zoster biasanya muncul sebagai ruam, dengan lepuh yang menyakitkan di dada, perut atau wajah. 

Rasa sakit sering digambarkan sebagai sakit terbakar, tertusuk atau seperti tersetrum. Bahkan beberapa orang menyebutkan sakitnya melebihi nyeri saat melahirkan. 

Sebagai informasi, herpes zoster menyerang 1 dari 3 orang dewasa, dan penyakit kronis seperti penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, diabetes atau asma meningkatkan risiko mereka menderita cacar api. 

Namun, sebuah fakta dari survei yang dilakukan di 10 negara, melibatkan lebih dari 6000 responden menunjukkan 1 dari 4 orang dengan penyakit kronis menganggap penyakit mereka tidak berpengaruh pada risiko cacar api. 

Kondisi ini diperburuk dengan adanya pandangan – pandangan yang belum tentu benar. Berikut mitos dan fakta yang beredar di masyarakat. 

1. Bila lepuhan hingga mengelilingi tubuh akan berdampak fatal

Ini adalah mitos. Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), MKes, menjelaskan, cacar api memiliki ciri khas di mana lentingan / lepuhan hanya di satu sisi tubuh. “Ia tidak akan melingkar, karena memang tidak seperti itu jalannya,” katanya kepada OTC Digest.

2. Cacar api bisa kambuh berulang

Fakta. Dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI), menegaskan, bila cacar api bisa berulang. 

Ia menerangkan, awalnya kita terkena cacar air, setelah sembuh, virus VZV tidak benar-benar mati, melainkan bersembunyi, dorman (tidak aktif), di ganglion belakang saraf tulang belakang. Saat imun tubuh turun ia aktif kembali, inilah yang disebut cacar api. 

“Bahkan setelah terkena cacar api, kemudian sembuh, tetap bisa berulang terkena kembali, jika daya tahan tubuh rendah,” dr. Ade menjelaskan. 

3. Baju pasien harus dicuci dengan air sulfur

Ini fakta. Dr. Vito menjelaskan penularan ke orang lain melalui cairan lepuhan. Sehingga untuk memperkecil risiko penularan prinsipnya jangan sampai terkena cairan tersebut. 

“Kalau kita mencucikan pakaian pasien harus hati-hati jangan sampai kena cairan tubuh (lepuhan) saat mengambilnya. Bisa pakai sarung tangan, lalu ada baiknya sebelumnya kita rendam air panas terus dicuci yang benar dengan detergen,” terangnya. 

Sulfur (belerang) merupakan komponen penting dalam produk detergen karena kemampuannya mengikat kotoran/lemak. Air belerang, seperti halnya detergen memiliki sifat antibakteri. (jie)

Baca juga: Ini Alasan Penderita Penyakit Jantung Perlu Cegah Cacar Api