laksatif laktulosa untuk konstipasi

Mengenal Laksatif Laktulosa untuk Sembelit

Konstipasi atau sembelit bukan penyakit tetapi merupakan gejala yang menunjukkan adanya penyakit atau gangguan. Ditandai dengan perasaan buang air besar (BAB) yang tidak memuaskan, BAB keras / sulit / sakit, defekasi kurang dari 3 kali seminggu. 

Dr. apt. Lusy Noviani, MM, trainer, praktisi dan dosen Prodi Profesi Apoteker Univ. Katolik Atma Jaya, Jakarta, menjelaskan, sembelit tidak selalu / semata-mata akibat kurang serat tetapi bisa juga disebabkan oleh kondisi medis lain. 

Antara lain, penyumbatan di usus besar (misalnya karena penyempitan, ada benjolan di rektum), ada penyakit penyerta dan gangguan hormon (diabetes, hiperparatiroid, hipotiroid, kehamilan), hingga masalah otot panggul. 

Konstipasi juga perlu diwaspadai, “Terutama jika ada BAB berdarah, tinja hitam pekat, ada riwayat kanker kolon dalam keluarga, riwayat radang usus, penurunan berat badan terus-menerus, anemia, hilang nafsu makan, mual dan muntah,” katanya kepada OTC Digest. Pada kondisi ini perlu konsultasi lebih lanjut ke dokter. 

Laksatif untuk jangka panjang

Setelah pemeriksaan, dokter akan menentukan apakah pasien memerlukan laksatif (pencahar) tertentu, atau membutuhkan diagnose yang lebih advance, misalnya dengan anorectal manometry atau ballon expulsion

Jika perubahan gaya hidup, seperti konsumsi serat dan cairan, olahraga hingga tidak menunda BAB, tidak efektif mengatasi sembelit, dokter akan merekomendasikan laksatif.   

Agen osmotik (laktulosa atau saline laxative) merupakan salah satu jenis laksatif (obat pencahar) yang biasa direkomendasikan. 

“Agen osmotik bekerjanya dengan meningkatkan tekanan osmotik dalam lumen saluran cerna, sehingga kadar cairan di usus meningkat dan feses menjadi lebih lunak. Laktulosa juga meningkatkan peristalsis usus,” Lusy menjabarkan. 

Studi menyatakan laktulosa aman dalam penggunaan jangka panjang. Memiliki onset kerja lambat dengan efek defekasi 24 – 48 jam. 

“Tidak menyebabkan ketergantungan. Ini biasanya itu efek kekhawatiran pasien kalau tidak pakai obat nanti konstipasi lagi. Tidak, enggak ada bukti klinis seperti itu,” tegas Lusy.

Perlu dipahami, bentuk sediaan mempengaruhi onset kerja obat (cepat/lambat). “Jadi ada yang ingin cepat, ada juga yang tidak. Misalnya orang yang sedang beraktivitas minumnya malam, sehingga besok paginya sudah BAB, tapi kalau ingin cepat pakai suposituria (berbentuk seperti peluru, dimasukkan ke dalam anus) 30-60 menit sudah bereaksi,” imbuhnya.

Bukti klinis beberapa penelitian menyimpulkan, termasuk pada kondisi pascapersalinan, pasien geriatri (lasia), anak-anak, penderita penyakit berat, laktulosa aman dan efektif untuk mengatasi sembelit. Mempercepat resolusi konstipasi, serta menurunkan kekambuhan.   

Apt. Abie Rabbina Addha, SFarm, Associate Brand Manager PT. Abbott Indonesia, menambahkan, “Laktulosa merupakan salah satu terapi lini pertama konstipasi yang direkomendasikan perkumpulan gastrointestinal Indonesia.” 

“Duphalac (laktulosa dari PT. Abbott Indonesia) adalah originator laktulosa. Keunggulannya ia melunakkan feses, dan tidak terlalu menyebabkan mulas atau kram perut, berbeda dengan stimulan lain. Bisa diberikan untuk segala usia, anak hingga lansia, termasuk untuk ibu hamil,” terang Abie. 

Beberapa kelebihan laktulosa antara lain: 

  1. Aman untuk penggunaan jangka panjang
  2. Tidak mengiritasi mukosa usus
  3. Cocok untuk lansia yang mengalami konstipasi kronis (> 6 bulan)
  4. Aman digunakan pada penderita hemoroid (ambeien) atau pasca operasi anorectal (melunakkan tinja sehingga pasien tidak perlu mengejan)
  5. Tidak mempengaruhi elektrolit secara signifikan
  6. Bisa digunakan pada pasien dengan kondisi medis tertentu (pasien penyakit kardiovaskular, pascapersalinan atau yang harus menghindari mengejan)
  7. Efek tambahan mengurangi absorbsi ammonia

Namun, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan. Laktulosa adalah turunan gula sehingga tidak selalu cocok untuk pasien diabetes. Perlu dilakukan penilaian lebih lanjut apakah kadar gula terkontrol atau tidak. (jie)