Rutin berolahraga atau melakukan aktivitas fisik membuat tubuh Anda lebih sehat/bugar. Salah satu penelitian menyebutkan rutin olahraga – walau singkat – bisa menurunkan risiko kanker.
Sebelumnya, WHO (World Health Organization) menyatakan mereka yang kurang aktivitas fisik memiliki risiko kematian 20 - 30% lebih tinggi dibanding orang yang cukup aktif.
Walau pentingnya aktivitas fisik dan olahraga sudah sangat jelas, sekitar 1 dari 3 wanita dan 1 dari 4 pria di seluruh dunia tidak menjalankan rekomendasi untuk berolahraga intensitas ringan - sedang setidaknya 150 menit per minggu, atau 75 menit per minggu olahraga intensitas sedang - tinggi.
Penelitian baru ini bisa memberikan angin segar bagi Anda yang tidak punya cukup waktu untuk berolahraga.
Berdasarkan pengukuran akselorometer yang dikenakan di pergelangan tangan 22.398 partisipan, dengan minimal 4,5 menit per hari olahraga intensitas tinggi dikaitkan dengan risiko kanker 32% lebih rendah. Studi ini dipublikasikan di JAMA Oncology.
Dr. Emmanuel Stamatakis, pemimpin penelitian dan profesor aktivitas fisik, gaya hidup dan kesehatan populasi di University of Sydney, Australia, menjelaskan, “Kami perlu menyelidiki lebih lanjut hubungan ini, melalui uji coba yang lebih kuat, tetapi tampaknya VILPA (Vigorous Intermittent Lifestyle Physical Activity) mungkin merupakan rekomendasi yang menjanjikan untuk menurunkan risiko kanker pada orang yang merasa olahraga terstruktur sulit atau tidak menarik.”
Apa itu VILPA?
Peneliti menciptakan istilah VILPA untuk merujuk pada aktivitas fisik singkat yang merupakan bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Contoh VILPA yang bisa Anda lakukan (tetapi tidak hanya terbatas pada ini saja), antara lain:
- Berjalan menanjak
- Menaiki tangga
- Maksimalkan kecepatan berjalan untuk jarak pendek, misalnya 100 - 200 meter, untuk mencapai intensitas tinggi – dikenal juga dengan jalan cepat.
- Menggendong anak atau membawa belanjaan sejauh 50 – 100 meter
- Melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat
VILPA berbeda dari aktivitas fisik berat biasa, karena VILPA bersifat singkat dan sporadis, bukan berkelanjutan dan terstruktur.
Dampaknya pada risiko kanker
Riset ini menggunakan data di UK Biobank, dengan rentang usia partisipan antara 40 – 69 tahun. Untuk menilai hubungan antara VILPA dan kejadian kanker, peneliti hanya memasukkan individu yang mengenakan akselometer yang melaporkan tidak melakukan olahraga apa pun di waktu luang mereka, atau maksimal satu kali jalan-jalan santai per minggu.
Individu dengan informasi tidak lengkap, riwayat kanker sebelumnya, atau yang tidak mengenakan alat pemantau aktivitas dengan benar dikeluarkan dari penelitian.
Didapatkan 22.398 orang yang memenuhi syarat, rerata usia 62 tahun. Dari jumlah tersebut 54,8% adalah perempuan dan mayoritas (96%) berkulit putih.
Selama periode tindak lanjut (rata-rata 6,7 tahun), peneliti mengidentifikasi 2.356 kejadian kanker baru, termasuk kematian akibat kanker apa pun.
Peneliti menggunakan teknik machine learning – disebut ‘Random Forest’ - untuk mengklasifikasikan aktivitas fisik yang direkam melalui akselerometer berdasarkan intensitas (berat, sedang atau ringan).
5 menit yang menurunkan risiko kanker
Sebagian besar episode VILPA terjadi dalam waktu singkat. Rata-rata VILPA dilakukan selama 4,5 menit setiap hari, dengan waktu maksimum mencapai 16 menit.
Analisis menunjukkan bahwa hubungan antara VILPA dan risiko kanker hampir linier, berarti semakin banyak VILPA dilakukan, semakin rendah risiko kankernya.
Dibandingkan dengan individu yang tidak melakukan VILPA sama sekali (6,2% partisipan), mereka yang melakukan VILPA sekitar 4,5 menit sehari – dalam sesi singkat 1 atau 2 menit – memiliki risiko kanker 20% lebih rendah.
Studi ini menunjukkan bila risiko kanker yang berhubungan dengan aktivitas fisik berkurang 31% pada mereka yang melakukan VILPA minimal 4,5 menit sehari.
Peneliti juga mengidentifikasi jumlah minimum VILPA yang dibutuhkan untuk secara signifikan berdampak pada risiko kanker. Mereka menyebutkan 3,4 menit VILPA setiap hari menurunkan risiko kanker secara keseluruhan 17 hingga 18%.
Studi lanjutan dibutuhkan
Dr. David Raichlen, profesor antropologi dan ilmu biologi di University of Southern California, yang tidak ikut studi tersebut berkomentar, walau riset tersebut berkualitas tinggi dan memberi pandangan baru, “penelitian ini tidak dapat menetapkan hubungan sebab akibat karena desainnya.”
“Studi intervensi yang menggunakan VILPA di masa mendatang diperlukan,” sarannya, mengutip Medical News Today.
Prof. Markus Gruber, kepala Pusat Penelitian Kinerja Manusia di University Konstanz, juga berkomentar, bila studi ini menegaskan fakta yang telah lama dikenal dalam ilmu olahraga: “Intensitas itu penting.”
Menurutnya, VILPA mungkin secara langsung mengurangi risiko kanker, atau menunjukkan kebugaran fisik yang lebih baik. VILPA juga mungkin berperan dalam melawan penurunan kebugaran terkait usia, dan dengan demikian mempengaruhi risiko kanker.
Secara keseluruhan, Prof. Gruber percaya bahwa VILPA adalah alternatif yang menjanjikan untuk merekomendasi aktivitas fisik berdasarkan durasi, “terutama untuk individu yang tidak suka berolahraga.” (jie)





