penderita ibs perlu sering ngemil
ngemil kurangi keparahan gejala IBS

Ini Alasan Kenapa Penderita IBS Perlu Lebih Sering Ngemil

Penderita IBS atau sindrom iritasi usus tentunya sudah hapal dengan ketidaknyamanan perut, seperti begah, nyeri, sembelit, hingga diare. Dalam studi terbaru disebutkan bila seberapa sering Anda makan mempengaruhi keparahan gejala. 

Riset yang diterbitkan di Frontiers in Public Health ini melibatkan 204 penderita IBD di Arab Saudi. Peserta mengisi kuisioner tentang diagnosa penyakit mereka, keparahan penyakit, pola makan, hingga latar belakang sosial demografiknya. 

Sekitar separuh partisipan mendiagnosa sendiri menderita IBS, dan sekitar 86% adalah perempuan (wanita dua kali lebih mungkin menderita IBS dibanding pria). 

Setelah menganalisa, peneliti menemukan bila mereka yang lebih sering ngemil memiliki gejala penyakit yang lebih ringan. 

Banyak peserta melaporkan memiliki pola makan tidak teratur. Sekitar 20% mengatakan bila mereka makan tidak teratur, dan 30% lainnya jarang sarapan. 

Kenapa ngemil berpangaruh?

Saat Anda mengonsumsi makanan porsi dalam kecil kerja sistem pencernaan pun lebih ringan, dibanding jika makan besar, terang Supriya Rao, MD, ahli penyakit dalam dan direktur medis weight loss di Lowell General Hospital. 

“Makan dalam porsi besar dapat memicu kontraksi usus yang lebih kuat dan sensitivitas pada penderita IBS,” kata Rao, melansir Health. “Makan lebih sering dengan porsi kecil bisa meredakan respons tersebut, mengurangi kembung dan menstabilkan pola buang air besar.” 

Yi Min Teo, MS, RD, dietisien yang berspesialisasi dalam kesehatan pencernaan di Los Angeles (AS), juga berkomentar bila ukuran dan frekuensi makan dapat memengaruhi gut-brain axis, hubungan antara otak dan pencernaan. Ini adalah cara mengetahui kapan Anda lapar, dan ini juga yang menyebabkan sakit perut ketika Anda merasa gugup, misalnya.

Penderita IBS biasanya memiliki gut-brain axis yang lebih sensitif, artinya mereka mungkin merasakan proses pencernaan normal dengan lebih intens. 

“Makan dalam porsi kecil dan lebih sering akan mengurangi peregangan dan tekanan yang memicu rasa sakit dan mendorong untuk BAB,” terang Teo. “Anggap saja seperti mengecilkan volume, alih-alih terus-menerus memberi tekanan ke usus dengan suara keras.” 

Namun perlu dicatat, studi ini memiliki batasan, ia tidak secara spesifik menyebutkan tipe IBS yang dialami partisipan, misalnya IBS-D (diare), IBS-C (konstipasi) atau IBS-M (diare dan konstipasi). 

Peneliti juga hanya bergantung pada kebiasaan makan yang dilaporkan sendiri, dan desain studi hanya dapat menunjukkan hubungan antara ngemil dan tingkat keparahan IBS, bukan sebab akibat. 

Sebaiknya Anda mulai lebih banyak ngemil?

Para ahli sepakat bila penderita IBS perlu mencoba lebih banyak ngemil sepanjang hari untuk membantu mengelola gejala IBS, terutama jika ia memiliki gejala parah meskipun sudah makan tiga kali sehari. 

Lebih disarankan untuk memiliki jadwal makan yang konsisten, dan jangan melewatkan makan, karena riset ini menemukan bahwa pola makan yang tidak teratur dan melewatkan sarapan umum terjadi di antara mereka dengan gejala parah. 

Kebiasaan makan dan ngemil teratur juga dapat membantu mengatur gut-brain axis yang sangat penting untuk mengelola hipersensitivitas terkait IBS.

Dahlia Marin, RDN, LD, CGN, seorang nutrisionis spesialis gastrointestinal dan IBS, menyarankan, selain ukuran dan frekuensi makan, penting untuk mengunyah makanan secara perlahan, atau memilih makanan dengan tekstur yang lebih lembut. 

Dalam penelitian tersebut, kesulitan mengunyah dikaitkan dengan gejala IBS yang lebih parah. “Saya juga menemukan dalam praktik bahwa kebanyakan orang tidak mengunyah makanan mereka dengan cukup menyeluruh, yang dapat berdampak negatif pada pencernaan,” katanya. 

Lantas apa yang dimakan? Sensitivitas individu dapat bervariasi, tetapi secara umum hindari makanan olahan, makanan yang menyebabkan perut kembung seperti kol dan kacang-kacangan, makanan berminyak dan gorengan. 

Hindari juga konsumsi serat tidak larut dalam jumlah besar atau sayuran mentah, makanan yang tinggi laktosa seperti krim, susu dan es krim. (jie)

Baca juga: Sindrom Iritasi Usus, Akhirnya Peneliti Mengetahui Apa Penyebabnya