Secara global katarak mempengaruhi lebih dari 100 juta orang. Di Indonesia, katarak menyebabkan sekitar 81,2% kasus kebutaan pada usia 50 tahun ke atas. Individu dengan mata minus tinggi berisiko lebih cepat mengalami katarak.
Katarak bukanlah penyakit, melainkan kemunduran jaringan, sebagian besar akibat proses degenerasi atau penuaan. Terjadi perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus pandang menjadi keruh. Menyebabkan pandangan kabur, buram/berkabut. Pada derajat berat bahkan membuat tidak bisa melihat sama sekali.
Katarak umumnya dialami oleh orang lanjut usia (60 tahun ke atas). Tetapi kondisi ini bisa juga terjadi pada usia yang lebih muda. Dr. Nina Asrini Noor, SpM, Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group, mengatakan, orang dengan minus (miopia) tinggi berisiko lebih cepat mengalami katarak.
“Katarak secara alami akan kena ke semua orang. Sayangnya orang yang minusnya tinggi cenderung lebih cepat pula dia untuk mengalami katarak,” katanya kepada OTC Digest, dalam gelaran Smart Business Lunch, di Jakarta (20/5/2026).
Selain buram, gejala katarak bisa pula berupa sensitif terhadap cahaya, sering berganti kacamata karena ukurannya mudah berubah. Atau, penglihatan di ruangan temaram lebih jelas dibanding ruangan terang.
Mayoritas penderita mengeluhkan penurunan (mengganggu) produktivitas. “Ada pasien datang usia sekitar 40 tahun ingin LASIK (Laser-Assisted in Situ Keratomileusis; prosedur untuk mengoreksi mata minus, plus atau silinder), penglihatannya juga sering silau saat malam hari. Ternyata katarak,” tambah dr. Nina.
Studi di jurnal American Academy of Ophthalmology menjelaskan miopia dikaitkan dengan peningkatan risiko katarak nuklear (kekeruhan di tengah lensa) dan subkapsular posterior (kekeruhan pada lapisan belakang lensa). Miopia tinggi memberikan risiko katarak nuklear tiga kali lebih besar dan risiko katarak subkapsular posterior hampir delapan kali lebih besar.
Hubungan antara minus tinggi dan katarak
Berbagai studi mencatat hubungan signifikan antara katarak dan miopia tinggi. Beberapa alasannya adalah:
- Penuaan dini. Bentuk dan panjang fisik mata pada minus yang sangat tinggi menyebabkan perubahan biokimia dan oksidatif. Hal ini mempercepat kerusakan protein di lensa, yang umumnya menyebabkan katarak nuklear dan katarak subkapsular posterior.
- Peningkatan risiko. Mata yang dengan minus tinggi memiliki retina yang lebih tipis, serat penopang lensa (zonula) yang lebih lemah, dan gel vitreus yang mencair.
Dr. Nina menjelaskan, mata minus - apalagi minus sangat tinggi - berarti suatu kondisi yang tidak normal. “Kalau tidak normal itu semuanya, termasuk metabolisme yang ada di mata kita tidak normal. Orang kalau sudah punya minus tinggi punya risiko katarak lebih tinggi, glaukoma atau gangguan saraf lebih tinggi,” ujarnya.
Datang pada kondisi berat
Katarak bisa menyebabkan kebutaan. Butuh berapa lama sampai fungsi penglihatan benar-benar nol (buta permanen)?
“Tahunan ya, tetapi jangan ditunggu. Saya sebetulnya miris melihat pasien datang sampai sudah ditemenin, dipapah karena sudah tidak bisa jalan sendiri, karena sudah tidak bisa melihat.
“Jangan sampai seperti itu. Tolong jangan takut untuk operasi katarak, karena semakin cepat (dioperasi) penyembuhan akan semakin baik. Kenapa tidak datang 3 atau 5 tahun lalu, operasinya bisa jauh lebih baik, penyembuhannya jauh lebih cepat. Jangan tunggu sampai benar-benar sudah buram,” dr. Nina menyarankan.
Sebagai upaya deteksi dini, secara umum dianjurkan melakukan pemeriksaan (medical check up) mata saat menginjak usia 40 tahun. Tidak hanya untuk mendeteksi ada tidaknya kekeruhan lensa, tetapi juga adakah kondisi lain, misalnya risiko glaukoma atau komplikasi diabetes di mata.
Operasi laser terkini
Dulu, operasi katarak sering dipahami sebatas mengangkat lensa yang keruh. Kini, dengan teknologi modern seperti FLACS dan pilihan lensa tanam yang semakin beragam, pasien tidak hanya dibantu untuk melihat kembali, tetapi juga untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih sesuai dengan aktivitas dan gaya hidupnya.
FLACS (Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery) merupakan salah satu bentuk transformasi dalam bedah katarak. Secara umum, teknologi ini menggunakan laser femtosecond yang dipandu komputer dan sistem pencitraan optik untuk membantu beberapa tahapan penting, termasuk pembuatan sayatan kornea, pembukaan kapsul lensa, dan pemecahan lensa yang keruh sebelum kemudian diganti dengan lensa tanam.
“Beberapa langkah yang sebelumnya dilakukan secara manual atau menggunakan pisau bedah digantikan oleh laser, sehingga presisinya jadi jauh lebih baik. Outcome-nya juga jadi lebih baik,” imbuh dr. Nina.
Prosedur FLACS memiliki durasi yang sangat singkat antara 10 - 15 menit per mata, menggunakan bius lokal sehingga pemulihannya pun sangat cepat. Pasien dapat langsung beraktivitas kembali keesokan harinya. (jie)
Baca juga: Penggunaan CTR untuk Operasi Katarak pada Mata Minus Tinggi





