Makanan kemasan jika dikonsumsi secara cerdas / bijak bisa menjadi cara melawan obesitas, selain konsumsi makanan seimbang dan olahraga teratur. Penting membaca label informasi gizi, untuk membatasi asupan kalori, gula, garam, lemak harian Anda.
Dr. Puspo Edi Giriwono, STP, Magr, direktur South East Asia Food & Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Center IPB, menjelaskan, proses pengolahan pangan yang baik berkontribusi pada peningkatan nutrisi dan kesehatan.
Sejarah menunjukkan manusia mulai memperbaiki makanannya dan kemudian mengolah supaya mendapatkan yang lebih bernutrisi. Mulai dari pengeringan, fermentasi dan penggaraman pada 10 ribu tahun lalu, pasteurisasi sejak abad 19, hingga mengurangi penyakit bawaan makanan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, Puspo menerangkan.
“Sebenarnya teknologi pangan modern dirancang untuk menjamin keamanan dan kualitas produk, masa simpan hingga pengurangan dampak lingkungan,” imbuhnya. “Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana masyarakat memahami proses pengolahan, bahan dan ingredien yang digunakan, serta informasi yang tertera di kemasan.”
Pangan olahan adalah bagian dari sistem pangan modern yang dihasilkan melalui proses berlandaskan sains dan teknologi untuk meningkatkan keamanan, mutu, masa simpan, dan kemudahan konsumsi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan telah melalui kajian keamanan serta batas aman konsumsi, sehingga aman dikonsumsi sesuai ketentuan. Antara lain dari Codex Alimentarius Comission (CAC) FAO/WHO untuk penggunaan dan batasan yang aman, diregulasi oleh BPOM, dan melalui uji toksikologi.
“Keamanan produk pangan olahan dijamin oleh aturan dan regulasi secara global dan nasional. Serta konformasi tinggi oleh para produsen dalam menerapkan aturan penggunaan bahan dan ingridien. Masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam upaya mencegah obesitas,” ujar Puspo.
Sebagai informasi, prevalensi obesitas nasional pada penduduk berusia ≥ 18 tahun mengalami peningkatan, yakni dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Obesitas disebabkan oleh konsumsi kalori yang berlebihan dalam jangka panjang, yang bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, baik dalam bentuk pangan olahan maupun siap saji.
Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI, menjelaskan kita hidup dalam lingkungan obesogenik yang memfasilitasi seseorang menjadi obesitas – dengan konsumsi makanan tinggi kalori, gula, garam, lemak, dan malas bergerak.
“Anak-anak sekarang cenderung gampang obes, dan kalau sudah obes sulit untuk turun,” ujar dr. Nadia. “Pilihan makan sehat itu diajarkan oleh orangtua. Gula itu adiktif. Kalau biasa minum manis pasti maunya lebih manis, cenderung meningkatkan konsumsi gula. Sama juga dengan garam.”
Konsumsi pangan olahan tidak dapat dihindari, dr. Nadia menambahkan, namun masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas.
Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana STP, MSc, PD.Eng, menambahkan dari sisi industri, pada saat menetapkan bahan pangan tambahan (perisa, pemanis atau pengemulsi) selalu berdasarkan ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta disusaikan dengan pola makan orang Indonesia.
“Sebagian orang beranggapan jajanan di pinggir jalan itu lebih alami, padahal itu belum tentu aman, itu justru berisiko (tinggi kalori, garam, gula, lemak), dibanding makanan olahan yang sudah lolos BPOM,” ujarnya.
Susana juga menyarankan, “Konsumen perlu memperhatikan informasi pada label kemasan, seperti takaran saji, energi total, persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi), serta komposisi bahan. Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya.”
Beberapa makanan kemasan bahkan mendapatkan label “Pilihan Lebih Sehat (ditandai dengan logo centang hijau dalam lingkaran)”. “Ada reformulasi bertujuan untuk mengurangi gula, garam dan lemak jenuh, meningkatkan serat, fortifikasi vitamin, meningkatkan kualitas nutrisi, hingga diversifikasi/inovasi produk,” Puspo menambahkan.
Selalu membaca informasi nilai gizi pada label kemasan bisa menjadi cara cerdas membatasi konsumsi gula, garam, lemak dan kalori harian. Selain tentunya dibarengi dengan konsumsi makanan seimbang, dan olahraga. (jie)





