Selama ini ada persepsi bila gigi putih adalah gigi sehat. Itu adalah pandangan jadul, saat ini paradigma baru adalah kesehatan gigi dan mulut ditunjang oleh keseimbangan microbiome di dalamnya.
Rongga mulut merupakan komunitas mikroba terbesar kedua dalam tubuh manusia dan memiliki ekosistem yang dihuni oleh lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang disebut sebagai microbiome mulut.
Prof. drg. Suryono, SH, MM, PhD, Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) menerangkan, layaknya pada usus, microbiome mulut terdiri dari bakteri baik dan bakteri yang berpotensi merugikan. Seiring berkembangnya ilmu kesehatan gigi dan mulut, tujuan perawatan yang lebih tepat bukanlah menghilangkan sebanyak mungkin bakteri, melainkan menjaga keseimbangan microbiome mulut.
“Karena ketika keseimbangannya terganggu atau mengalami disbiosis, bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai permasalahan gigi dan mulut,” katanya, dalam acara pembukaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026, 17 September 2026, di Jakarta.
Masalah tersebut misalnya pembentukan plak. Ketika plak terus terakumulasi dan lingkungan di dalamnya berubah, hal itu dapat menguntungkan kelompok bakteri merugikan.
Pada gigi berlubang, konsumsi gula yang terlalu sering dapat membuat bakteri menghasilkan asam secara berulang, sehingga lingkungan rongga mulut menjadi semakin asam dan menyebabkan demineralisasi enamel hingga akhirnya terjadi karies (gigi berlubang).
Perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi juga dapat memicu respons inflamasi tubuh sehingga menimbulkan radang gusi, baik itu gingivitis hingga periodontitis. Selain itu, masalah bau mulut pun berkaitan dengan aktivitas bakteri yang memecah berbagai substrat di rongga mulut dan menghasilkan senyawa sulfur volatil yang memiliki aroma tidak sedap.
Gosok gigi dan konsumsi serat
Sebagai informasi, ada bakteri Streptococcus mutans yang menjadi perusak – penyebab utama gigi berlubang – dan Streptococcus salivarius – bakteri probiotik di rongga mulut – yang menjadi penyeimbang. Komposisi kedua jenis bakteri ini harus dalam kondisi seimbang agar kesehatan mulut dan gigi terjaga.
“Jika komposisinya berubah, dari gram positif menjadi gram negatif, dari aerob menjadi anaerob, dampaknya kalau di jaringan lunak (gusi) timbul gingivitis (radang gusi), kalau pada jaringan keras metabolisme bakteri tadi menghasilkan asam, menyebabkan gigi berlubang,” terang Prof. Suryono.
Dr. drg. A. Tajrin, MKes, SpBMM, Subsp.COM(K), Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) menambahkan, menjaga keseimbangan microbiome mulut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui perawatan yang tepat, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat serta mencukupi kebutuhan cairan untuk mendukung produksi dan fungsi air liur sebagai pertahanan alami rongga mulut.
Menggosok gigi haruslah di waktu yang tepat, minimal dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Bisa menggunakan pasta gigi khusus yang memiliki ion aktif untuk menekan pertumbuhan bakteri merugikan, sekaligus merangsang pertumbuhan bakteri baik rongga mulut.
“Hindari konsumsi gula berlebihan, terutama ngemil di antara waktu makan tanpa tidak kumur atau sikat gigi setelah makan,” imbuh drg. Tajrin. “Lebih banyak minum air putih. Kalau minum kopi atau teh diselingi air putih.”
Lantas, apa hubungannya makanan berserat (buah dan sayur) dengan microbiome mulut? Pada dasarnya serat bertentangan dengan gula. “Gula meningkatkan bakteri yang menyebabkan kerusakan rongga mulut. Serat dan air yang memperlancar air liur, juga merangsang bakteri baik di rongga mulut. Streptococcus mutans dihambat pertumbuhannya oleh Streptococcus salivarius,” terang drg. Tajrin.
Prof. Suryono menambahkan, “Makanan berserat itu sangat baik, karena perlu pengunyahan. Proses pengunyahan ini sebernarnya adalah proses pembersihan secara alami. Berbeda dengan makanan lunak yang mudah menempel, itu cenderung memudahkan kuman atau plak berkumpul. Sehingga kalau plaknya meningkat yang terjadi biasanya gigi berlubang karena asam.”
Tidak kalah penting adalah menghindari rokok, karena juga meningkatkan keasaman rongga mulut. Dan, rutin konsultasi ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali agar berbagai permasalahan yang dapat mengganggu keseimbangan microbiome mulut dapat dideteksi dan ditangani sejak dini. (jie)





