polusi udara jangka panjang picu demensia

WHO Ingatkan: Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Picu Demensia

Masyarakat yang hidup di kota besar, seperti Jakarta, perlu waspada. Pasalnya, paparan polusi udara jangka panjang bisa picu demensia (kepikunan), WHO mengingatkan. 

Jakarta terus menghadapi krisis polusi udara parah pada 2026, berulang kali menduduki peringkat sebagai kota besar dengan kualitas udara terburuk di dunia. Indeks Kualitas Udara (AQI) di Ibu Kota kerap melonjak antara 150 hingga 180, yang dikategorikan sebagai ‘tidak sehat’.   

Panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru menambahkan poin polusi udara sebagai faktor risiko demensia. WHO menekankan bila 45% penyebab demensia sebenarnya bisa dicegah. Mengatasi faktor risiko seperti polusi udara sangat disarankan. 

Menerapkan gaya hidup sehat dan mengelola penyakit kronis, termasuk diabetes dan hipertensi, berpengaruh signifikan pada kesehatan otak. Panduan tersebut juga menyebutkan pentingnya olahraga teratur, serta berhenti merokok. 

Sementara konsumsi rutin vitamin atau suplemen omega-3 tidak dianjurkan bila tanpa indikasi defisiensi, sebagai tindakan pencegahan demensia. 

Ini adalah revisi guideline (panduan) terbesar sejak 2019, menunjukkan bertambahnya bukti-bukti baru bila gaya hidup, manajemen penyakit kronis dan paparan lingkungan, secara signifikan mempengaruhi kesehatan otak.

Masuknya polusi udara ke dalam panduan pencegahan demensia terbaru ini menegaskan banyaknya bukti ilmiah terkait paparan polusi udara jangka panjang dengan penurunan fungsi kognitif.   

The Lancet Commission on Dementia Prevention, Intervention and Care (2024) menyebutkan pulusi udara adalah salah satu dari 14 faktor risiko demensia yang bisa dimodifikasi, yang secara bersama-sama menyumbang hingga 45% kasus demensia. 

Sementara studi tahun 2024 di BMJ Public Health mengidentifikasi bila, baik polusi udara luar ruang (outdoor) atau di dalam ruang (indoor), sama-sama bisa meningkatkan risiko demensia. 

Secara global lebih dari 57 juta orang di dunia terdiagnosa demensia, dan hampir 10 juta kasus baru tiap tahunnya. Di Indonesia - berdasarkan studi tahun 2012 di Yogyakarta - disebutkan pada kelompok usia 70-74 tahun, prevalensi demensia mencapai 22,5%.  

Rekomendasi terbaru

Rekomendasi terbaru ini meliputi aktivitas fisik/olahraga rutin, stop merokok, batasi konsumsi alkohol, pola makan sehat, menjaga tekanan darah, manajemen diabetes dan kolesterol. 

WHO juga menekankan pentingnya interaksi/aktivitas sosial dan stimulasi kognitif (misalnya membaca, mengerjakan tugas sehari-hari, dll). Memakai alat bantu dengar juga membantu menurunkan risiko demensia.    

“Sekarang kita tahu lebih banyak, dibanding sebelumnya, terkait risiko demensia. Panduan ini mewujudkan pengetahuan tersebut ke dalam bentuk aksi,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. “Negara-negara sekarang memiliki rekomendasi jelas, berdasarkan bukti ilmiah, yang bisa mereka terapkan untuk melindungi  kesehatan kognitif warganya.”

WHO tidak menyarankan suplementasi rutin vitamin B atau E, omega-3 atau multivitamin-mineral lain untuk pencegahan demensia pada individu yang tidak terdiagnosa defisiensi, karena masih kurangnya bukti ilmiah. 

Lebih dari sekedar lupa

Demensia adalah gangguan otak yang mempengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Demensia lebih dari sekedar lupa, ini disertai perubahan perilaku, misalnya mendadak tidak tertarik melakukan hobi. 

Penderita demensia mengalami kemunduran fungsi kognitif otak. Bisa berupa penurunan kemampuan memusatkan perhatian, daya ingat (baik ingatan jangka pendek atau ingatan jangka panjang), orientasi dan persepsi visuospasial (kemampuan menentukan arah), penurunan kosa kata / bahasa. 

Atau, penurunan pemahaman dan fungsi eksekutif; pengambilan keputusan. Sebanyak 60-70% kasus demensia berkembang menjadi penyakit Alzheimer. 

Walau kondisi ini belum bisa diobati, WHO mengatakan beberapa faktor risiko utama bisa dikurangi lewat perubahan gaya hidup dan manajemen penyakit kronis yang lebih baik. (jie)      

Baca juga: Mendeteksi Demensia, Periksakan Fungsi Otak