Siapa sangka, otak ternyata juga bisa bisulan! Bisul otak (abses otak) disebut sebagai salah satu dari tiga infeksi utama pada sistem saraf pusat, selain meningitis dan ensefalitis. Namun, bisul otak masih relatif jarang dibicarakan ketimbang dua infeksi lainnya.
Pada dasarnya, bisul otak sama dengan bisul di bagian lain tubuh, yaitu penumpukan nanah akibat infeksi, baik oleh bakteri atau jamur. “Secara umum, bisul di otak bisa terjadi kalau ada infeksi yang tidak ditangani di gigi, sinus, atau telinga,” jelas Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, Sp. B.S, Subsp. N-Vas., Ph.D, FICS atau akrab disapa dr. Joy dari RS Pondok Indah – Pondok Indah.
Tumor otak juga bisa terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ lain yang cukup jauh. Misalnya endokarditis (infeksi katup jantung), dan pneumonia (radang paru). Infeksi apa pun bisa menyebar hingga ke otak dan menyebabkan bisul di pusat saraf tersebut. Bisul juga bisa terjadi akibat trauma pada kepala, termasuk trauma akibat prosedur bedah saraf.
Menurut dr. Joy, “Ada satu kuman endemis di Indonesia yang cukup sering menyebabkan bisul otak, yaitu: tuberkulosis (TB).” TB yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis umumnya memang menyerang paru. Namun, bakteri ini bisa menyebar dari paru dan menginfeksi organ atau jaringan tubuh lain di luar paru, seperti tulang, kulit, kelenjar getah bening, dan otak. Ini disebut juga TB ekstraparu.
Tanda dan Gejala Bisul Otak
Jangan abaikan bila mengalami sakit kepala yang tidak kunjung membaik; ini merupakan salah satu gejala utama dari bisul otak atau gangguan lain pada otak. Berikut ini tanda dan gejala yang perlu diwaspadai; bisa muncul secara bertahap atau tiba-tiba, tergantung ukuran dan lokasi bisul:
- Demam tinggi dan menggigil
- Mual dan muntah
- Kejang
- Leher atau punggung terasa kaku
- Gangguan saraf, seperti kelumpuhan, lemah otot, atau bicara cadel
- Perubahan perilaku (sering mengantuk, linglung, gelisah)
Gejala terjadi karena bisul menekan saraf-saraf di sekitarnya, serta meningkatkan tekanan di dalam rongga kepala (intrakranial).
Pengobatan - Haruskah Dioperasi?
“Tidak semua bisul otak harus dioperasi,” tegas dr. Joy. Bila bisul tidak menyebabkan gangguan neurologis atau defisit neurologis seperti lupa, maka pengobatan dilakukan dengan cara menyingkirkan sumber infeksi. Misalnya, bila bisul disebabkan oleh infeksi pada gigi, maka infeksi gigi harus diobati hingga tuntas dan segera. Bila infeksi penyebab sudah selesai, bisul di otak umumnya akan sembuh.
Obat-obatan meliputi antibiotik atau antijamur, tergantung penyebab infeksinya. Dokter mungkin juga akan memberikan antikejang untuk mengatasi kejang, serta steroid untuk mengurangi pembengkakan. Pada bisul otak yang disebabkan oleh TB, pengobatannya adalah dengan obat-obatan TB.
Kapan bisul otak perlu dioperasi? “Bila ukurannya cukup besar, misalnya di atas 2,5 cm, bisa menyebabkan masalah pada otak,” terang dr. Joy. Tekanan berkepanjangan akibat bisul bisa merusak jaringan otak di sekitarnya secara permanen, dan bila sudah rusak, sel otak tidak bisa dikembalikan lagi.
Bisul juga bisa membuat otak membengkak, sehingga tekanan intrakranial meningkat. Tekanan intrakranial yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kerusakan neurologis, hingga koma, bahkan kematian. Risiko lain: bisul bisa pecah dan menyebabkan meningitis.
Dokter akan memeriksa kondisi bisul otak secara menyeluruh untuk menilai apakah bisul otak berisiko menimbulkan komplikasi sehingga perlu ditangani, selain mengobati penyebabnya. Pemeriksaan meliputi: tes darah, pencitraan dengan MRI atau CT scan, EEG, hingga biopsi.
Pengobatan lain di luar obat-obatan dan operasi yaitu dengan jarum aspirasi. Dengan bantuan MRI atau CT scan, dokter bedah akan menggunakan jarum untuk menarik keluar nanah dari bisul. Bisa pula disuntikkan obat ke bisul otak untuk menyusutkannya. (nid)
____________________________________________
Ilustrasi: Image by cookie_studio on Magnific





