intermittent fasting tidak hanya turunkan berat badan
intermittent fasting tidak hanya turunkan berat badan

Tidak Hanya Turunkan Berat Badan, Intermittent Fasting Tawarkan Manfaat Psikologis

Dalam beberapa tahun belakang ini diet intermittent (intermittent fasting) sangat populer. Dilakukan sebagai cara untuk mengelola berat badan, menjaga gula darah, dll. Tampaknya, manfaatnya tidak hanya secara fisik, melainkan juga psikologis. 

Selama melakukan intermittent fasting, Anda hanya memiliki ‘jendela’ makan selama beberapa jam, misalnya bila mengikuti metode 16/8, Anda harus berpuasa selama 16 jam, dan punya waktu makan 8 jam. 

Sebuah studi baru yang mengikuti diet intermittent menyatakan diet ini bisa lebih bermanfaat untuk mereka yang cenderung melakukan “diet yo-yo”. Ini istilah yang menggambarkan mereka yang kerap berganti-ganti jenis diet, alih-alih menerapkan satu pola makan sehat dalam jangka panjang. 

Riset ini membandingkan antara intermittent fasting dengan diet penghitungan kalori. Hasilnya didapatkan bila kedua metode diet ini sama-sama efektif menurunkan berat badan. 

Namun, mereka yang menerapkan diet intermittent memiliki keuntungan psikologis dan perilaku, yakni tidak perlu menghitung kalori atau memonitor makan berlebih. Riset ini diterbitkan di jurnal internasional Clinical Nutrition.  

“Banyak orang yang menjalani diet kronis (dalam waktu lama) terjebak pada siklus terus-menerus melacak, menghitung, membatasi dan memikirkan makanan,” ujar Monique Richard, MS, nutrisionis pemilik Nutrition-In-Sight, yang tidak terlibat penelitian ini. 

“Jika jendela makan yang terstruktur membantu menyederhanakan dan mengurangi kelelahan dalam pengambilan keputusan, hal itu dapat meningkatkan kepatuhan jangka panjang bagi sebagian orang,” katanya, mengutip Healthline. 

Tidak sebabkan Anda berpikir tentang makanan

Riset ini melibatkan lebih dari 200 orang obesitas. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok: intermittent fasting, penghitungan kalori tradisional dan diet seimbang standar.  

Kelompok intermittent fasting diminta melakukan puasa 20 jam, hanya makan antara pukul 8 pagi hingga 12 siang. Siklus ini berlangsung 3 kali seminggu pada hari-hari yang tidak berurutan. 

Kelompok penghitungan kalori diminta untuk mengonsumsi 70% dari diet mereka biasanya. Sementara mereka yang menjalani diet seimbang standar tidak memiliki batasan apa pun. 

Peneliti menemukan kelompok diet intermittent dan penghitungan kalori mengalami penurunan bobot yang sama. Namun, kelompok intermittent fasting melaporkan tidak perlu melakukan perubahan besar pada pola makan mereka, seperti menghitung kalori atau menjaga agar tidak terlalu banyak makan. 

“Riset sebelumnya menunjukkan individu yang memperbaiki hubungan mereka dengan makanan dan yang lebih mampu mengontrol nafsu makan akan kehilangan lebih banyak berat badan - terlepas dari diet spesifik yang mereka jalani,” kata  penulis utama riset ini Leonie Heilbronn, PhD, profesor di School of Medicine di Adelide University, Australia. 

“Studi kami menyarankan bila kita bisa mempersonalisasi suatu rekomendasi diet. Jika  seseorang merasa kesulitan untuk memperbaiki pola makan, intermitten fasting mungkin lebih baik untuk membantu mereka tetap turun berat badan,” imbuhnya. 

Diet intermittent tidak untuk semua orang

Walau diet ini sangat populer, para ahli sepakat bila tidak cocok untuk semua orang. 

“Intermittent fasting bisa tidak pas untuk orang dengan kondisi medis tertentu, misalnya penderita diabetes atau sejenisnya yang dalam pengobatan, atau yang gula darahnya terlalu rendah,” papar Mir Ali, MD, ahli bedah bariatrik dan direktur medis dari Memorial Care Surgical Weight Loss Center, di Orange Coat Medical Center, California, yang tidak terlibat pada studi tersebut.  

Ia menyarankan - pada orang-orang dengan kondisi medis tertentu - untuk berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter sebelum mencoba melakukan diet intermittent. Selain itu diet ini tidak cocok untuk ibu hamil dan menyusui, anak/remaja dalam masa pertumbuhan, atau mereka dengan riwayat gangguan makan. (jie)