Penyakit jantung bawaan (PJB) bukanlah kondisi yang bisa diabaikan. Apa efeknya bila PJB didiamkan? “Bisa terjadi gagal jantung, infeksi jantung, gangguan irama jantung, hipertensi paru, hingga kematian dini,” ujar dr. Yovi Kurniawati, Sp. J.P, Subsp. K.Ped.P.J.B. (K) dari RS Pondok Indah – Pondok Indah, dalam diskusi media di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Bukan berarti semua PJB harus segera ditangani saat itu juga, saat anak masih kecil. Pada kasus berat, tentu saja perlu segera dilakukan tindakan. Namun, bila tidak ada keluhan, maka diobservasi dulu. “Timing untuk operasi harus tepat,” tegasnya.
Pengobatan PJB sendiri tidak harus selalu berupa operasi. Ada kalanya cukup dengan obat-obatan saja. “Kalau dengan obat tidak bisa tertangani, baru kita lakukan intervensi, bisa bedah atau nonbedah,” imbuh dr. Yovi. Terutama pada kasus PJB asianotik, seperti atrial septal defect (ASD) dan ventricular septal defect (VSD).
Ada tiga kondisi PJB asianotik. Selain ASD dan VSD, ada satu lagi, yaitu patent ductus arteriosus (PDA). Di Indonesia, VSD merupakan tipe PJB yang paling banyak ditemukan di usia anak-anak. Adapun ASD kerap ditemukan di usia dewasa karena sering tidak terdeteksi di masa kanak-kanak.
ASD adalah lubang pada dinding yang memisahkan serambi jantung (atrium) kanan dan kiri, sedangkan VSD adalah lubang pada dinding pemisah antara bilik jantung (ventrikel) kanan dan kiri. Keduanya menyebabkan aliran darah yang tidak normal dan meningkatkan beban kerja jantung.
Pengobatan PJB tipe ASD dan VSD
Pada sebagian kasus, lubang pada ASD ataupun VSD bisa menutup secara spontan bila ukurannya kecil. Namun, bila ukurannya sedang atau besar, maka perlu dilakukan tindakan untuk mencegah komplikasi yang bisa terjadi.
Dulu, tindakan penutupan lubang pada ASD dan VSD dilakukan dengan bedah terbuka. Yang lebih canggih menggunakan metode transkateter dengan panduan fluoroskopi (sinar X). “Kekurangannya, ada paparan radiasi berulang, yang cukup berisiko bagi anak-anak maupun tenaga medis,” ujar dr. Yovi.
Cara yang lebih modern menggunakan transkateter tanpa bantuan sinar X (zero fluoroscopy). Meski tanpa bantuan sinar X, operasi berlangsung presisi karena dipandu dengan ekokardiografi real-time. “Teknik ekokardiografi modern memberikan visualisasi yang sangat detail, sehingga dokter bisa melihat ukuran lubang, arah aliran darah yang abnormal, dan memastikan bahwa perangkat penutup terpasang dengan baik,” tutur dr. Yovi.
Prosedur zero fluoroscopy closure cukup sederhana, dan merupakan bedah invasif minimal. Kateter dimasukkan melalui pembuluh darah paha menuju jantung. Untuk memandu dokter mencapai lubang pada serambi atau bilik jantung, digunakan ekokardiografi. Bisa berupa TEE (transesophageal echocardiography) atau TTE (transthoracic echocardiography).
Pada TEE, kateter dimasukkan melalui mulut, lalu ke kerongkongan, hingga berada di bawah jantung. Untuk prosedur ini, dibutuhkan anestesi umum (bius total). Bila menggunakan TTE, prosedurnya mirip USG kehamilan, hanya saja dilakukan di area dada; cukup dengan bius lokal.
Setelah dokter menemukan lubang pada bilik atau serambi jantung, dilakukanlah prosedur penutupan. Melalui kateter yang dimasukkan lewat paha, dokter akan memasang perangkat khusus untuk menutup lubang tersebut. “Alatnya seperti payung mini, dengan berbagai macam model dan ukuran, sesuai lubangnya,” jelas dr. Yovi.
Ia melanjutkan, angka keberhasilan penutupan ASD dan VSD dengan teknik ini setara dengan metode berbasis fluoroskopi. “Yaitu 90-95% pada ASD, dan 70-75% pada VSD,” ucapnya. Risiko komplikasi berat seperti kesalahan penempatan perangkat atau kerusakan katup jantung pun sangat kecil. (nid)
_____________________________________________
Ilustrasi: Image by mdjaff on Magnific





