yang tidak disarankan melakukan diet intermiten
yang tidak disarankan melakukan diet intermiten

Apakah Anda Termasuk Yang Tidak Disarankan Diet Intermiten?

Diet intermiten (IF) boleh jadi metode penurunan berat badan yang banyak digunakan orang saat ini. Metode ini melibatkan kebiasaan makan dan puasa bergantian dengan tujuan mengurangi angka di timbangan, peningkatan metabolisme dan kesehatan secara umum. 

Beberapa pola umum diet intermiten adalah dengan puasa selama 16 jam dan membatasi asupan makan dalam jangka waktu 8 jam. Ada juga dengan tetap menjaga pola makan biasa selama 5 hari berturut-turut, kemudian membatasi asupan antara 500 – 600 kalori selama dua hari berturut-turut. 

Meskipun sudah banyak orang yang merasakan manfaat diet ini, bukan berarti tanpa risiko apa pun. Jika Anda sedang mengandung atau memiliki kondisi medis tertentu, IF bukanlah pilihan yang tepat. 

1. Bagaimana IF mempengaruhi metabolisme?

Ana Reisdorf, MS, RD, dietisien dan pendiri GLP-1 Hub yang berbasis di Tennessee, Amerika Serikat, menjelaskan bagi mereka yang berusia 40 tahun ke atas, puasa intermiten bisa menyebabkan kecukupan asupan protein harian lebih sulit, berpotensi menyebabkan peningkatan kehilangan massa otot. 

Perlu dipahami massa otot secara alami berkurang seiring bertambahnya usia, terutama menginjak usia 30 tahun ke atas. “Selain itu diet intermiten bisa menurunkan laju metabolisme dan meningkatkan kortisol (hormon stres) seiring waktu,” terang Reisdorf, melansir Eatthis.com. 

2. Siapa yang tidak disarankan diet intermiten?

Meskipun diet intermiten terbukti berhasil bagi sebagian orang – dan ada banyak studi yang mendukung manfaatnya – ini tidak selalu yang tepat untuk semua orang. 

“Untuk mereka yang mengalami perubahan hormonal (menopause/perimenopause), stres tinggi, atau sedang mengonsumsi obat GLP-1 (glucagon like peptide -1; untuk membantu mengatur gula darah dan menekan nafsu makan), puasa intermiten dapat menyebabkan asupan kalori/protein turun terlalu rendah, meningkatkan kelelahan, kehilangan massa otot atau disregulasi hormonal,” kata Reisdorf. 

3. Siapa yang lebih mungkin mendapatkan efek negatif?

Reisdorf mengungkapkan, wanita pada masa perimenopause (masa transisi sebelum menopause) atau mengalami menopause, penderita diabetes (terutama tipe 1), mereka dengan kebutuhan nutrisi lebih tinggi (misalnya atlet), dan individu yang mengonsumsi obat GLP-1 paling mungkin mengalami efek samping dari diet intermiten. 

“Kelompok-kelompok ini memiliki kebutuhan protein yang lebih tinggi, ketidakseimbangan hormon dan jangan sampai kekurangan supan nutrisi,” tegas Reisdorf. 

4. Seberapa umum mengalami kemunduran dengan IF

Mengalami kemunduran saat diet intermiten cukup umum terjadi, terutama pada wanita yang belum mengonsumsi cukup kalori, atau mereka dalam kondisi stres berat. 

“Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka tidak cukup makan akibat diet ini sampai mereka merasakan kelelahan, rambut rontok, kehilangan massa otot atau penurunan berat badan yang benar-benar terhenti,” kata Reisdorf. 

5. Tantangan perilaku dan mental yang mungkin Anda hadapi

Perlu diwaspadai bila diet intermiten biasanya meningkatkan pikiran obsesif tentang makanan, makan berlebihan setelah puasa, atau pemikiran “hitam-putih” seputar kebiasaan makan. 

“Pada sebagian orang, diet intermiten memperburuk pola pikir,” Reisdorf mengingatkan. (jie)