Meningkatkan Standar Pelayanan Kanker dengan Kolaborasi yang Berpusat pada “Patient First” | OTC Digest

Meningkatkan Standar Pelayanan Kanker dengan Kolaborasi yang Berpusat pada “Patient First”

Kanker payudara masih menjadi kasus kanker yang paling banyak menjangkiti perempuan di Indonesia. Diperkirakan lebih dari 66.000 kasus baru setiap tahun, dengan angka kematian yang sangat tinggi. Angka kesintasan (survival rate) pasien kanker payudara di Indonesia hanya 54%. Bandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia (70%), Vietnam (70%), dan Singapura (85%). Keterlambatan diagnosis dan akses pengobatan yang tepat ditengarai berkontribusi besar terhadap tingginya angka kematian di Indonesia.

Siloam International Hospitals (Siloam) menggandeng PT Roche Indonesia (Roche) dalam sebuah kemitraan strategis untuk transformasi layanan kesehatan nasional, khususnya di bidang onkologi (kanker). Menariknya, kolaborasi ini tak sekadar transaksi obat seperti yang umumnya terjalin antara RS dengan perusahaan farmasi. “Lingkup kerjasama diperluas. Kami ingin membangun ekosistem yang lebih baik untuk mendukung pasien, dengan visi: patient first,” ungkap CEO MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Edy Gunawan.

Baik MRCCC maupun Roche menyadari bahwa pasien kanker membutuhkan dukungan yang jauh lebih komprehensif, tidak hanya akses terapi, tetapi juga sistem layanan yang terintegrasi dari awal hingga akhir perjalanan pengobatan.

Perjalanan pasien kanker sangatlah panjang. Mulai dari diagnosis melalui berbagai pemeriksaan, termasuk biopsi. Setelah itu, masuk ke pengobatan, mulai dari operasi, radiasi, kemoterapi, dan terapi-terapi lain yang dibutuhkan. “Yang perlu kita perhatikan, apakah di tiap tahapan itu pasien sudah mendapatkan pelayanan yang terbaik?” imbuh dr. Edy, dalam penandatanganan MoU antara Siloam International Hospital dan PT Roche Indonesia di Jakarta (13/2/2026).

Sanaa Sayagh, Presiden Direktur PT Roche Indonesia (kiri) dan David Utama, Presiden Direktur  Siloam International Hospitals (kanan) dalam pengesahan MoU antara Siloam International Hospitals dan PT Roche Indonesia

Ia menambahkan, harus dipastikan apakah radioterapi atau kemoterapi yang diterima oleh pasien sudah sesuai standar. Tak kalah penting yaitu menavigasi pasien sehingga pasien dan keluarganya paham betul apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum terapi, dan bagaimana perawatan setelah terapi.

Salah satu yang akan dilakukan oleh MRCCC dan Roche yaitu memetakan patient journey. “Ini sebagai upaya untuk memperkecil kemungkinan pasien berhenti di tengah perawatan, atau tidak menyelesaikan kemoterapi dan berpindah ke pengobatan lain, yang akan mengurangi hasil klinisnya,” tutur dr. Edy.

Pelatihan Perawat Spesialis Onkologi

Merawat pasien kanker membutuhkan keahlian khusus, sehingga tenaga perawat spesialis onkologi sangat dibutuhkan. Sementara itu, jumlah perawat onkologi di Indonesia masih sangat terbatas. Saat ini, hanya sekitar 60 perawat spesialis onkologi di Indonesia; di MRCCC Siloam sendiri hanya ada 4 orang.

Perawat spesialis onkologi berbeda dengan perawat umum, karena mereka kompetensi spesifik. Mulai dari penanganan kemoterapi, pemantauan efek samping terapi, hingga edukasi komprehensif kepada pasien dan keluarga. Peran mereka juga krusial dalam menjaga keselamatan pasien melalui pengawasan terapi yang ketat dan edukasi berkelanjutan.

Dicontohkan oleh dr. Edy, soal obat kemoterapi misalnya. “Obat kemoterapi bersifat sitotoksik, sehingga perlu pemahaman khusus bagaimana cara penanganannya. Perawat harus memahami penggunaan alat pelindung diri, prosedur penanganan obat, batas paparan udara, serta proses pemeriksaan obat sebelum diberikan kepada pasien,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Access Communications and Health System Values Strategy Roche, Lucia Erniawati. “Perawat spesialis onkologi punya peran krusial dalam memastikan keamanan dan kualitas layanan pasien kanker, mulai dari kemoterapi hingga perawatan paliatif,” ujarnya.

Roche telah mengembangkan program perawat berbasis onkologi sejak 4 tahun lalu bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Saat ini, ada sekitar 60-an perawat spesialis onkologi lulusan UI yang berasal dari berbagai rumah sakit. “Untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan nasional, program serupa juga tengah dipersiapkan di Universitas Gadjah Mada,” ungkap Lucia.

MRCCC Siloam Hospital bekerjasama dengan Roche mengembangkan program fast track keperawatan onkologi, agar makin banyak tenaga perawat spesialis onkologi di Indonesia. Pelatihan dimulai dari penguatan dasar melalui program Basic Nurse Oncology (keperawatan onkologi dasar). Program ini menjadi fondasi penting bagi perawat yang ingin mendalami bidang onkologi. “Sudah ada 200–300 perawat dari berbagai rumah sakit yang telah mengikuti pelatihan tersebut dan dinyatakan lulus,” ujar Lucia.

Bagi perawat yang ingin melangkah lebih jauh, tersedia jalur pendidikan perawat spesialis onkologi. Berbeda dengan pelatihan dasar, program ini ditujukan bagi perawat berlatar belakang S1 keperawatan yang telah menyelesaikan pendidikan magister sebelum melanjutkan ke jenjang spesialis. (nid)

____________________________________________

Ilustrasi: Image by freepik